Beda Ngayogjazz dengan Java Jazz  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung kenakan jas hujan saat menonton sejumlah musisi tampil di ajang Ngayogjazz 2013 di desa wisata Sidoakur, kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta, (16/11). TEMPO/Suryo Wibowo.

    Pengunjung kenakan jas hujan saat menonton sejumlah musisi tampil di ajang Ngayogjazz 2013 di desa wisata Sidoakur, kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta, (16/11). TEMPO/Suryo Wibowo.

    TEMPO.CO , Yogyakarta: Anggota tim kreatif Ngayogjazz, Aji Warsono, mengatakan sebanyak 27 musisi bakal meramaikan pentas music Ngayogjazz. Para musisi yang terlibat menjanjikan kejutan bagi para penonton.

    “Misalnya kolaborasi musisi,” kata Aji ketika menggelar jumpa pers Ngayogjazz 2014 di Cafe Momento Yogyakarta, Kamis, 20 November 2014. (Baca juga: Sabtu Ini, Ngayogjazz Digelar di Pinggir Sawah)

    Nyayogjazz pertama kali diselenggarakan pada 2007. Inilah panggung jazz terbesar di tanah air setelah Java Jazz. Bedanya, Java Jazz digelar di tempat mewah dengan tiket mahal. Sedangkan, penonton Ngayogjazz tidak dipungut tiket dan hanya membayar parkir kendaraan. (Baca juga: Musisi Eropa Akan Meriahkan Ngayogjazz 2013  )

    Selain itu, jika Java Jazz digelar di tempat-tempat mewah, Ngayogjazz menggunakan panggung yang menyatu dengan masyarakat di perkampungan. Ngayogjazz dihelati Desa Wisata Brayut, Pendowoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Ngayogjazz tahun ini berjudul Tung Tak Tung Jazz, yakni bebunyian yang dilisankan yang menggambarkan kegembiraan. Tung Tak Tung Jazz merupakan rangkaian bebunyian dari alat musik tradisional, satu di antaranya kendang. Alat musik ini biasanya diperdengarkan sebagai intro atau mengawali sebuah acara. “Ngayogjazz berharap menjadi awal untuk regenerasi musisi jazz Indonesia,” kata Aji.

    SHINTA MAHARANI

    Berita lain:
    Ini Cara Mabes Polri Tes Keperjakaan Calon Polisi
    BBM Naik, Jokowi Langgar UU APBN?  
    Menteri Susi Ternyata Nge-fan dengan Risma


     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.