Wayang Orang Sriwedari Pentaskan Petruk Dadi Guru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang seniman berlakon sebagai Petruk dan Gareng dalam pertunjukan kesenian wayang orang yang berjudul Jayabaya Mukswa di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Surakarta (31/3). TEMPO/ Nita Dian

    Dua orang seniman berlakon sebagai Petruk dan Gareng dalam pertunjukan kesenian wayang orang yang berjudul Jayabaya Mukswa di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Surakarta (31/3). TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta -Setelah sukses mementaskan lakon "Arjuna Tinandhing", kelompok Budayaku, grup Wayang Orang Sriwedari Solo, kembali mementaskan sebuah lakon berjudul "Petruk Dadi Guru". Pentas wayang orang ini digelar atas prakarsa BudayaKu dan Taman Ismail Marzuki pada 29 November 2014 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

    Lakon pentas ini sejatinya diambil dari cerita Taliroso-Rosotali. "Ceritanya dari sana, berbeda dari cerita dan alur "Petruk Dadi Ratu" yang sering dipentaskan," ujar sutradara sekaligus Pimpinan Wayang Orang Sriwedari, Agus Prasetyo saat konferensi pers, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Kamis, 13 November 2014. Untuk pementasan ini, Wayang Orang Sriwedari memboyong 60 pemain  dari Solo. 

    "Petruk Dadi Guru" menceritakan  Betara Guru yang menghilang dari kahyangan demi memuaskan hasratnya mencintai Dewi Lesmanawati. Dia mengubah wujudnya menjadi seorang ksatria. Hilangnya penguasa kahyangan ini membuat bingung para dewa. Dewi Uma dan Narada pun turun mencari Betara Guru.

    Di tempat lain, Petruk menemukan pakaian yang gemerlapan. Silau akan gemerlap dan kemewahan pakaian, Petruk memakai pakaian tersebut. Pada saat yang sama, para dewa menemukan Bethara Guru dan memboyongnya ke kahyangan. Namun akhirnya terjadi kegaduhan. 

    Cerita ini, kata Agus, terinspirasi situasi yang berkembang saat ini.  Ceritanya pun disampaikan secara  guyon tetapi penuh pesan bermakna. "Harapannya lakon ini bisa menjadi guru bagi kita semua, bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang ada," ujar lulusan Institut Seni Indonesia Surakarta ini. 

    Bertindak sebagai dalang adalah Heri Karyanto dan penata artistik Nanang Hape. Nanang menjanjikan sajian artistik panggung pada pentas ini. "Unsur artistik di luar pakem cerita, akan jadi yang utama," ujarnya.

    DIAN YULIASTUTI

    Berita lain:
    Malaysia Kuasai 3 Desa, Pemda Nunukan Pasrah 
    Kontras Laporkan FPI ke Komnas HAM 
    Ahok Didukung MUI Asal...

     




     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.