Kisah Tentang Koperasi Nonggup  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta menonton pemutaran film Nonggup pada acara Inspirasi BaKTI di Gedung Yayasan BaKTI, Makassar, 29 Oktober 2014. TEMPO/Asrul Firga Utama

    Peserta menonton pemutaran film Nonggup pada acara Inspirasi BaKTI di Gedung Yayasan BaKTI, Makassar, 29 Oktober 2014. TEMPO/Asrul Firga Utama

    TEMPO.CO , Makassar: Film Nonggup bercerita tentang praktik cerdas di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Koperasi yang dibangun pada 1 Agustus 2009 dengan modal patungan sebesar Rp8 juta. Yan—sekretaris distrik yang menginisiasi terbentuknya Koperasi Nonggup—meminta bantuan Riswanto, lelaki asal Jawa yang tinggal di kabupaten, karena Yan tidak punya pengetahuan yang cukup tentang koperasi.

    Mereka mendesain sendiri sistem pembukuan dan menganut prinsip keadilan dalam berkoperasi. Alasannya, sistem koperasi yang ada tidak selalu cocok dengan masyarakat sehingga perlu didesain supaya cocok. “Prinsip kami, ada kewajiban ada hak,” ujar Yan.

    Film Nonggup yang diluncurkan di gedung Bursa Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) di Makassar, Rabu pekan lalu, itu diproduksi oleh BaKTI yang bekerja sama dengan Rumah Ide Makassar. Yan Karowa, Kepala Distrik Iniyandit, Kabupaten Boven Digoel, Papua, hadir sebagai narasumber dalam Inspirasi BaKTI, pemutaran, dan diskusi praktik cerdas Nonggup.

    Sebelumnya, BaKTI sudah membuat video pendek tentang Koperasi Nonggup ini. Namun, BaKTI menggandeng Rumah Ide Makassar untuk membuat film dan sineas film itu diberi kebebasan berkarya. “Ini film eksperimen,” kata sutradara Arfan Sabran.

    Film dibagi dua fase. Kisah di balik ide pembuatan koperasi yang berwarna hitam-putih dan fase setelah koperasi berkembang dengan layar berwarna. Arfan bersama seorang rekannya sebagai juru kamera mengambil gambar selama 15 hari di desa itu.

    Manajer Komunikasi BaKTI, Victoria Ngantung, mengatakan cerita ini adalah salah satu bentuk praktik cerdas yang perlu disebarluaskan. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 300 praktik cerdas yang ditemukan oleh BaKTI. Praktik cerdas ini memiliki enam kriteria, yakni partisipatif, inovatif, berdampak nyata, berkelanjutan, pro-poor and pro-gender, serta akuntabel.

    REZKI ALVIONITASARI

    Berita lain:
    Pengusaha dan Pejabat Ini Sambut Jokowi di Beijing
    Di APEC, Jokowi Promosi Visi Maritim Indonesia  
    Guru Ngaji Ini Sodomi 27 Murid SD di Tasikmalaya  


     



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.