Mural 'Bali Tolak Reklamasi' Jadi Perangko Austria  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan warga dan pekerja wisata air yang tergabung dalam ForBali (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi) membentangkan poster penolakan reklamasi dan pencabutan Perpres No.51/2014 saat unjuk rasa di Teluk Benoa, Badung, Bali, 15 Agustus 2014. TEMPO/Johannes P. Christo

    Ratusan warga dan pekerja wisata air yang tergabung dalam ForBali (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi) membentangkan poster penolakan reklamasi dan pencabutan Perpres No.51/2014 saat unjuk rasa di Teluk Benoa, Badung, Bali, 15 Agustus 2014. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Solidaritas untuk 'Bali Tolak Reklamasi', sebuah karya seniman jalanan (street artist) asal Yogyakarta, Digie Sigit, dipilih menjadi gambar untuk perangko Austria.

    Karya itu bergambar perempuan penari Bali. Sigit membuatnya sebagai ekspresi solidaritas atas penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa di Nusa Dua, Bali. Di Yogyakarta, Sigit memasangnya di Project Geneng Street Art 2014 di Desa Geneng, Bantul dan di Ledok Tukangan, Kota Yogyakarta.

    Pertengahan Agustus lalu, Sigit datang ke Austria untuk menghadiri undangan Tirolesia Project. Selama sebulan di sana, Sigit memperkenalkan sejumlah karyanya, termasuk 'Solidaritas untuk Bali Tolak Reklamasi' kepada publik Austria.

    Bahkan, bersama Hans-Dieter Manhartsberger, seorang seniman Austria, Sigit membuat karya kolaborasi dengan gambar utama perempuan penari Bali. "Dia (Hans) ini seorang seniman yang dikenal berkarya dengan bahan recycle," kata Sigit kepada Tempo, Jumat 7 November 2014.

    Sigit mengatakan gambar utama karyanya -penari perempuan Bali-, sebenarnya foto yang dibuat pada tahun 1920an. Sigit menemukannya melalui internet pada arsip Lembaga Kerajaan Ilmu Bahasa, Negara, dan Antropologi Belanda, KITLV. Lewat gambar itu, ia ingin mengingatkan publik pada kearifan budaya dan tradisi kehidupan di Bali. "Jangan menjadikan Bali obyek pariwisata semata," kata dia.

    Pada Selasa, 5 November 2014, Sigit mendapat surat dari Hans. Dalam surat itu, Hans mengabarkan karya kolaborasi mereka kini digunakan sebagai gambar utama perangko di Austria. Selain melampirkan gambar-gambar dalam suratnya, Hans bahkan mengirimkan surat untuk Sigit dengan perangko bergambar karya mereka. "Nilainya (per perangko) 62, saya sendiri tak tahu itu sen atau euro," kata Sigit sembari tertawa.

    Sigit mengatakan telah menghibahkan karyanya. Mungkin saja, ia melanjutkan, dengan status hibah itulah proses menjadikan karya itu sebagai gambar perangko tak membutuhkan waktu lama. Tak ada tawar menawar harga dan proses transaksi jual beli karya.

    Sigit hanya ingin solidaritas penolakan reklamasi di Bali meluas. Tak hanya di Bali dan Indonesia, namun juga ke seluruh dunia. "Kalau kondisi alam di Bali rusak, kelestarian alam di seluruh dunia juga akan terganggu," kata dia.

    ANANG ZAKARIA

    Topik terhangat:

    Pemerasan | Kisruh DPR | Susi Pudjiastuti | Lulung Dipecat | Kabinet Jokowi

    Berita terpopuler lainnya:
    Kartu Sehat & Pintar Jokowi Bikin DPR Tak Berdaya 
    Gereja Yesus Buka Kisruh Nikah Jessica Iskandar 
    Heboh Kelanjutan Film AADC, Reuni Cinta dan Rangga
    Lulung Dipecat, PPP Isyaratkan Dukung Ahok 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?