Melihat Seni Barongan dari Dunia Akademikus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kesenian Reog Ponorogo. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Kesenian Reog Ponorogo. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Blora - Hentakan gending Jawa menyambut auman suara mengerikan. Bersama kepulan asap putih yang terlihat berwarna-warni di bawah cahaya lampu. Muncul sosok besar berkepala singa dipenuhi rambut di seluruh wajahnya. Satu per satu sosok itu bermunculan dari balik panggung. Dibalut kain berwana merah dan hitam. Sosok berkepala singa berbadan manusia itu melakukan tarian rumit namun mistis.

    Itulah sosok singo barong yang dipentaskan di alun-alun Kota Blora, Jawa Tengah, Sabtu malam, 1 November 2014. Pada pagelaran seni budaya Festival Barong Nusantara 2014. Lakon berjudul Marwoko yang berarti keberanian ini menceritakan cerita klasik mengenai keberanian seorang ksatria bernama Joko Lodro yang membasmi genderuwon.

    Genderuwon atau genderuwo yang berasal dari cerita Panji Asmorobangun ini digambarkan sebagai sosok mengerikan berwajah hitam yang selalu membawa pedang yang bernama Mentawa. Pedang inilah yang digunakan genderuwon untuk menyemblih anak kecil yang ditemuinya.

    Sosok genderuwon ini merupakan jelmaan dari Batara kala yang merupakan jelmaan dari dewa penguasa waktu. Sedangkan pedang Mentawa merupakan jelmaan dari Buta Kesipu. Dua sosok ini dalam mitologi cerita barong Blora. Dikisahkan sebagai sosok yang tidak bisa dibunuh dari bangsa manusia maupun hewan. Juga tidak akan bisa mati baik siang maupun malam hari.

    Maka saru-satunya yang dapat membunuh genderuwon ini hanya berasal dari makhluk jadi-jadian yang berwujud manusia dan hewan. Sosok jadi-jadian yang merupakan perwujudan dari manusia dan singa ini bernama Narasimha atau yang biasa disebut juga sebagai singo barong.

    Menurut Profesor Slamet Mangundiharjo yang merupakan pengajar seni tari di Institut Seni Indonesia Surakarta, cerita genderuwon jelmaan Batara kala ini merupakan cerita asli singo barong masyarakat Blora. Saat ini, kata dia, banyak seniman barong di Blora yang mengkombinasikan cerita barong dari daerah lain. "Saya ingin merekonstruksi lagi cerita asli barong dari daerah Blora," katanya.

    Dengan dibantu mahasiswa seni tari dan karawitan ISI Surakarta, ia mencoba menghadirkan kembali cerita itu di depan pejabat dan masyarakat Blora. Pentas yang berdurasi kurang-lebih 45 menit itu membuat penonton terkagum-kagum. Khususnya barisan depan yang banyak diisi anak kecil berusia 6-10 tahun. Akibatnya peluit dari Satuan petugas Pamong Praja tak henti-hentinya berbunyi karena penonton anak-anak dan sejumlah fotografer menutup panggung pertunjukan.

    Bahkan Bupati Blora Djoko Nughroho yang turut menyaksikan. Ikut-ikutan protes seusai menyampaikan pidato sambutannya lantaran terhalang sejumlah wartawan dan penonton yang meringsek maju menutup panggung.

    Malam itu panggung tak hanya diisi oleh seniman barong asal Blora. Seniman barong dari daerah lain juga turut meramaikan pergelaran festival tersebut. Seperti dari Kendal, Kediri, Bali, dan Semarang. Perbedaan yang sangat mencolok dari seni barong ini. Terlihat pada sosok singo barong yang juga sebagai pelaku utama dalam setiap lakon pertunjukan barongan. Perbedaan ini terletak pada bentuk kepala dari si singa barong. Pada singo barong Blora, berwujud kepala manusia dengan rambut hitam lebat menjuntai panjang.

    Menurut Sekretaris Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan Kabupaten Blora Eko Afriyanto, kepala singo barong Blora tak lepas dari tradisi reog di Ponorogo, Jawa Timur. Pada reog Ponorogo terdapat merak pada kepala singo barong. Merak ini diartikan sebagai sebuah keindahan. Sedangkan singo barong Blora hanya dihiasi ikat ijuk.

    Hal yang mendasari perbedaan ini, menurutnya jika dilihat dari sejarah letak Blora pada saat itu berada di wilayah pinggiran kerajaan Kediri. Ia memperkirakan pada saat itu masyarakat Blora tidak mampu menggunakan merak sebagai hiasan kepala singo barong karena mungkin dianggap terlalu mahal. Maka dibuatlah singo barong versi Blora yang ada hingga saat ini.

    "Makanya, saya kira ini sebagai bentuk perlawanan masyarakat Blora pada saat itu. Masyarakat Blora tetap ingin menikmati seni rakyat tersebut tapi dibuat sedemikian rupa sesuai kondisi yang ada pada saat itu," kata Eko kepada Tempo.

    Selain perbedaan bentuk kepala singo barong. Perbedaan lain seni barong khas Blora terletak pada sosok genderuwon. Hal ini tidak akan ditemui pada kesenian tradisional barong di daerah lain.

    FARAH FUADONA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.