Melukiskan Imajinasi Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak melukis layang-layang guna memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 12 juni di silang monas, Jakarta, Minggu (12/6). Acara yang diadakan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tersebut diikuti 34 sekolah dari Jakarta dan 2 sekolah dari Indramayu. TEMPO/Tony Hartawan

    Sejumlah anak melukis layang-layang guna memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 12 juni di silang monas, Jakarta, Minggu (12/6). Acara yang diadakan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tersebut diikuti 34 sekolah dari Jakarta dan 2 sekolah dari Indramayu. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Makassar: Mutia memoles gambar capung dengan warna-warna cerah. Di hadapannya, Anggraini Herman H.N. memperhatikan sembari mewarnai gambar yang sama di kertas berbeda dengan pilihan warna yang berbeda pula.

    Sesekali, Anggi—sapaan Anggraini—bertanya kepada Mutia tentang warna yang dipilihnya, atau gambar apa yang ingin ditambahkan berikutnya. “Saya memberikan kebebasan untuk menentukan sendiri teknik yang dipakai dengan jenis gambar yang dekoratif,” ujarnya kepada Tempo, Agustus lalu. (Baca juga: Terapi Melukis untuk Fisik Sekaligus Jiwa)

    Menurut perempuan 24 tahun ini, anak perlu dibuatkan suasana melukis senyaman mungkin. Salah satunya adalah memberi kebebasan menggambarkan imajinasinya. Hal inilah yang diterapkan Anggi dalam kelas melukisnya.

    Kelas lukis digelar setiap Jumat sore, di halaman belakang Rumah Budaya Rumata. Kelas dasar adalah pembelajaran dasar menggambar dan mewarnai dengan krayon, pensil warna, atau spidol. Kelas ini diperuntukkan bagi anak usia 4 tahun atau usia taman kanak-kanak. Kelas lanjut adalah menggambar dan mewarnai dengan aneka cat. Sedangkan kelas praktis untuk sekali pertemuan.

    Alasan utama alumnus Fisika Universitas Negeri Makassar ini membuka kelas lukis adalah berbagi dengan anak-anak. Berhadapan dengan anak-anak, Anggi selalu memberi kebebasan. Termasuk memilih gambar yang akan dilukis, warna, maupun alat.

    Mula-mula, ketika mulai menggambar, Anggi akan bertanya kepada peserta lukis soal gambar yang diinginkan. Jika mereka tak punya ide, Anggi memperlihatkan contoh sederhana, seperti bunga, hewan, atau kendaraan. Barulah kemudian si anak melukis sendiri. Anggi mencontohkan dengan menggambar di kertas sendiri.

    “Tugas saya cuma mengarahkan teknik memegang alat, cara memadukan warna, tapi tidak ikut campur dengan karyanya,” ujar Anggi. Beberapa teknik yang diajarkan Anggi seperti cara yang berbeda dalam menggunakan spidol, pensil warna, dan krayon. Menurut dia, pensil warna sama seperti spidol, harus lebih rapi karena teksturnya terlihat jelas. Kalau arah mencoretnya berbeda, akan tampak. Sedangkan krayon, kalau mau rapi, sistemnya diputar.

    REZKI ALVIONITASARI

    Berita lain:
    Indonesia Raya Akhirnya Berkumandang di Incheon
    Golkar Paling Diuntungkan dari UU Pilkada
    #ShameOnYouSBY Hilang, Muncul #ShamedByYou


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?