Puluhan Radio Kuno Dipamerkan di Solo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cholil (44) mengoperasikan radio koleksinya di rumahnya Jl. Ir. Rais, Malang, Jawa Timur (6/3). Pria yang juga berprofesi sebagai jurnalis ini memiliki kegemaran mengoleksi radio dan alat pemutar musik kuno seperti Phonograph dan Gramaphone. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Cholil (44) mengoperasikan radio koleksinya di rumahnya Jl. Ir. Rais, Malang, Jawa Timur (6/3). Pria yang juga berprofesi sebagai jurnalis ini memiliki kegemaran mengoleksi radio dan alat pemutar musik kuno seperti Phonograph dan Gramaphone. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO , Solo: -Komunitas Pelestari Audio Lama dan radio Tabung Yogyakarta (Padmaditya) menggelar pameran radio zaman baheula di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo, 19-25 September 2014. Puluhan radio yang rata-rata masih menggunakan casing terbuat dari kayu berjajar di ruang pamer. Beberapa diantaranya masih berfungsi dengan baik.


    Misalanya radio bermerek Philips Tombstone buatan Belanda. Radio itu dibuat sekitar tahun 1930 hingga 1940-an, terbuat dari kayu berwarna cokelat dan terlihat masih mengkilap. Bentuknya setengah lingkaran dengan beberapa ornamen sehingga terlihat klasik. Di bagian bawah terlihat jarum serta beberapa tombol pengatur suara dan gelombang. (Baca: Dirgahayu Batik Antik)


    Komunitas tersebut juga memamerkan salah satu koleksi dengan merek Ralin, akronim dari Radio Listrik Indonesia.   Bentuk radio yang diproduksi 1950-an itu berbentuk persegi panjang dan terbuat dari kayu.


    Ada pula radio bermerek Bence yang diproduksi sekitar tahun 1956. Konon, radio buatan Surabaya itu merupakan radio pertama yang diproduksi oleh Indonesia. Radio Bence diproduksi beberapa saat setelah Ralin beredar. Dindingnya yang terbuat dari kayu dan berbentuk limas membuat radio itu terlihat lebih artistik.


    Lalu radio Philips yang diproduksi sekitar tahun 1956. Meski sama-sama menggunakan teknologi tabung, radio tersebut sudah bisa menerima siaran Short Wave (SW), Medium Wave (MV) serta Frequency Modulation (FM). "Padahal waktu itu siaran FM belum dikenal di Indonesia," kata salah satu kolektor, Edi Sunaryo,  pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu.


    AHMAD RAFIQ



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.