Terungkap, Siapa Sebenarnya Sosok Hello Kitty  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang pengunjung berpose dengan Robot Kitty dalam pameran Hello Kitty di Taipe, Taiwan, (14/7). (AP Photo/Chiang Ying-ying)

    Dua orang pengunjung berpose dengan Robot Kitty dalam pameran Hello Kitty di Taipe, Taiwan, (14/7). (AP Photo/Chiang Ying-ying)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosok Hello Kitty selama ini dianggap sebagai seekor kucing, binatang yang memiliki bulu halus berwarna putih. Namun Sanrio, perusahaan yang melahirkan dan memegang hak paten atas karakter Hello Kitty, mengungkapkan bahwa sebenarnya Kitty adalah seorang manusia. (Baca: Hello Kitty Buka Konser Avril Lavigne di Jakarta)

    Seperti dilansir dari Daily Mail, Jumat, 29 Agustus 2014, menurut Sanrio, Hello Kitty adalah seorang anak perempuan Inggris bernama Kitty White. Ia tinggal di pinggiran London, walau tak ada seorang pun yang tahu rumahnya. (Baca: Ke Hello Kitty Malaysia? Ini Harga Tiketnya)

    Hal ini tentu mengejutkan bagi para penggemar Hello Kitty. Selama ini Sanrio menyiapkan situs untuk menunjukkan biografi Kitty. Dalam penampilannya, Kitty selalu digambarkan sebagai binatang. (Baca: Pororo, Si Pesaing Hello Kitty dan Micky Mouse)

    Christine R. Yano, antropolog dari Universitas Hawaii sekaligus pemeran tokoh kartun tersebut, juga membenarkan bahwa Kitty sebenarnya bukan kucing. "Itulah koreksi yang dibuat Sanrio dalam naskah saya untuk pameran. Hello Kitty bukanlah kucing," katanya kepada LA Times. "Dia adalah anak perempuan. Dia seorang teman. Namun dia bukan kucing."

    Yano melanjutkan, Kitty berjalan dan duduk seperti makhluk dua kaki lainnya. "Tapi dia juga punya kucing peliharaan bernama Charmmy Kitty," katanya.

    Banyak orang, kata Yano, yang tidak tahu bahwa Kitty sebenarnya adalah manusia. Ada pula penggemar yang tahu soal kenyataan tersebut tapi tidak peduli.

    Lantas mengapa tokoh Hello Kitty diadopsi dari sosok gadis Inggris? "Hello Kitty pertama kali muncul pada 1970-an saat banyak perempuan Jepang pergi ke Inggris," kata Yano. "Mereka senang dengan Inggris yang dianggap mewakili tempat ideal untuk melewati masa kecil."

    Yano melanjutkan, biografi itu diciptakan untuk menggambarkan selera masyarakat Jepang saat itu. Saat ditanya mengapa seorang gadis digambarkan dalam karakter seperti kucing tanpa mulut? Yano tidak menjawab. "Mungkin lebih baik berkonsentrasi pada prestasi karakternya," katanya.

    RINA ATMASARI | DAILYMAIL

    Terpopuler
    Florence 'Ratu SPBU' Jadi Trending Topic Dunia  

    UGM Akan Beri Sanksi untuk Florence 'Ratu SPBU' 

    Sempat Ditolak Prabowo, Suhardi Malah Dapat Pajero 

    Prabowo Pilih Suhardi karena Kloset Jongkok

    Ajukan Konsep Gerindra, Suhardi Ditolak Prabowo


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.