Robin Tolak Kontrak Rp 7 Miliar Sebelum Meninggal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada tanggal 23 Mei 2014, Robin Williams mengunggah foto lama bersama Melissa Leo ketika syuting film

    Pada tanggal 23 Mei 2014, Robin Williams mengunggah foto lama bersama Melissa Leo ketika syuting film "The Angriest Man in Brooklyn". Instagram

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktor film Robin Williams dikabarkan menolak beberapa kontrak kerja sebelum meninggal. Kabar ini tentu membantah rumor dirinya mengalami depresi berat karena masalah keuangan.

    Dilansir Femalefirst, Kamis, 28 Agustus 2014, menurut AEG Live, Williams tercatat telah menolak beberapa tawaran kerja sebelum meninggal. Salah satunya adalah kontrak yang bernilai Rp 7 miliar untuk tampil di sebuah pertunjukan di Colosseum at Caesars Place, Las Vegas.

    Catatan tersebut menguatkan pernyataan Mara Buxbaum, juru bicara Robin. Buxbaum pernah mengatakan bahwa Williams sama sekali tidak memiliki masalah keuangan.(Baca: Robin Williams Sempat Rapat Sebelum Meninggal)

    "Robin tidak bermasalah dengan keuangannya. Saya tahu betul kondisi keuangannya. Bahkan, patut disyukuri atas pendapatan Wiliams selama ini," kata Buxbaum.

    "Jika ingin mengetahui apa penyebab dia mengalami depresi berat, itu tidak ada yang bisa menjawabnya. Anda bebas berspekulasi semau Anda," ucapnya.

    Robin Williams ditemukan meninggal di rumahnya. Ia ditemukan tergantung dengan sabuk yang diikatkan pada bagian atas pintu. Tak lama setelah kematiannya, istri ketiga Robin, Susan Schneider, mengungkapkan bahwa suaminya baru saja didiagnosis mengidap penyakit parkinson.

    RINA ATMASARI | FEMALEFIRST

    Berita Terpopuler
    Suri Cruise Sediakan Rp 11 Juta bagi Penemu Anjingnya
    Chris Martin dan J-Law Kencan, Ini Kata Paltrow
    Jurus Aa Gym Tangkal ISIS
    Chris Martin Tulis Lagu Cinta untuk J-Law


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.