Neneng, Picasso dari Surabaya, Pamerkan Lukisan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seniman lukis kaligrafi, Abdul Djalil Pirous (80 tahun) berpose di samping karya lukisan kaligrafi di kediamannya, Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Juli 2014. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Seniman lukis kaligrafi, Abdul Djalil Pirous (80 tahun) berpose di samping karya lukisan kaligrafi di kediamannya, Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Juli 2014. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Surabaya - Neneng, anak berkebutuhan khusus binaan Pondok Sosial Kalijudan Surabaya, akan kembali memamerkan karya lukisnya. Lukisan remaja yang dijuluki Picasso dari Pondok Kalijudan Surabaya ini akan dipamerkan bersama 40 karya lukis anak-anak berkebutuhan khusus lain di Gedung Perpustakaan Bank Indonesia, Jalan Mayangkara Nomor 6, Surabaya, dalam pameran bertajuk Believe #2 "Enlightenment". Pameran ini akan berlangsung pada 17-22 Agustus 2014.

    Untuk ketiga kalinya pameran ini diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya. Seluruh lukisan yang dipamerkan merupakan hasil karya anak-anak berkebutuhan khusus dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Lingkungan Pondok Sosial Kalijudan dan Kampung Anak Negeri Wonorejo. "Ini adalah agenda luar biasa," kata Humas Pemerintah Kota Surabaya Muhammad Fikser dalam jumpa pers, Jumat, 15 Agustus 2014.

    Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Supomo mengatakan 14 anak menjadi peserta pameran kali ini. Delapan di antaranya berasal dari Pondok Kalijudan, yang menampung anak-anak berkebutuhan khusus. Sedangkan enam anak lainnya berasal dari Pondok Kampung Anak Negeri Wonorejo, yang khusus membina anak jalanan. "Pemerintah Kota ingin mengantar anak-anak ini agar ke depan bisa mandiri," kata Supomo.

    Pameran akan dibuka oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada Ahad, 17 Agustus 2014, pukul 11.00 WIB. Semua lukisan akan dijual. Hasil penjualan langsung diterima anak-anak melalui rekening tabungan masing-masing.

    Menurut kurator pameran ini, Agus Koecink, karya lukis anak-anak ini sebagian besar bersifat ekspresif. Melalui lukisan, mereka menggambarkan pengalaman masa lalu. "Gambaran masa lalu itu dituangkan dalam kanvas," ujar Agus.

    Agus mencontohkan Babil, salah seorang anak berkebutuhan khusus yang ditemukan petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya di sebuah stasiun kereta. "Jadi, lukisannya juga tentang stasiun," kata Agus.

    Lalu ada Neneng yang lukisannya selalu menggambarkan perihal perempuan. Ini mewakili perasaannya yang menginginkan seorang ibu.

    Agus berharap pameran ini bisa memberi pencerahan kepada anak-anak tentang siapa diri mereka. Meski pernah memiliki masa kelam, tapi, dengan lukisan, mereka bisa mempunyai nilai.

    AGITA SUKMA LISTYANTI

    Berita Terpopuler





     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto