Arsitektur Indonesia Tidak Didikte Eropa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • The Great Hall Outward Bound Indonesia, bangunan konstruksi bambu karya arsitektur Andry Widyowijatnoko di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (18/12). TEMPO/RISANTI

    The Great Hall Outward Bound Indonesia, bangunan konstruksi bambu karya arsitektur Andry Widyowijatnoko di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (18/12). TEMPO/RISANTI

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Propan Raya bekerja sama dengan Green Building Council Indonesia dan INIAS Resources Center menyelenggarakan sayembara Desain Arsitektur Nusantara 2 bertema "Desain Desa Wisata Nusantara Hijau".

    Kepeloporan arsitektur Nusantara ini ditunjukkan oleh arsitek Yori Antar dan beberapa arsitek lain yang membawa misi menjaga kelestarian, mengkinikan, dan mengangkat arsitektur Nusantara agar menjadi inspirasi dunia.

    "Ini sebuah kepedulian. Jangan sampai arsitek Indonesia didahului oleh arsitek luar negeri dalam menciptakan desain arsitektur kelas dunia," kata Direktur Marketing PT Propan Raya Yuwono Imanto, Jumat, 8 Agustus 2014, di Cendrawasih Room, Jakarta Convention Center (JCC). (Baca : Gedung Bioskop Dibongkar, Yayasan Inggil Protes)

    Yori Antar mengatakan sayembara ini menjadikan arsitektur Indonesia sebagai panglima untuk menentukan arah arsitektur Indonesia. Menurut Yori, pertanyaan arsitektur Indonesia mau dibawa ke mana ini sudah muncul puluhan tahun lalu. "Tidak berhasil dijawab, karena mindset kita masih modern, didikte industri yang membawa ke arah Belanda atau Eropa," kata Yori.

    Belakangan, arsitek yang tergabung dalam komunitas akademikus dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Institut Teknologi Bandung mencari arsitektur Indonesia. "Hasilnya sangat berbeda," kata Yori. (Baca : Indonesia Tampil Perdana di Biennale Venesia )

    Arsitektur Indonesia dekat dengan alam, tidak melukai bumi, karena materinya berada di atas tanah dan menggunakan pendekatan nilai tradisional. Arsitektur Indonesia ini tergambar dalam karya para pemenang sayembara Desain Arsitektur Nusantara 2013 dengan tema "Desain Rumah Budaya Nusantara". Pada Jumat, 8 Agustus lalu, mereka diberi penghargaan atas prestasi mereka di JCC, Senayan, Jakarta.

    Karya pemenang utama adalah Baruga Tambi, Rumah Budaya Omah Gunungan, dan Menitis Tazo. Menitis Tazo merupakan karya Tobias Kea Suksmalana, alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sedangkan Rumah Budaya Omah Gunungan adalah karya Titus Pandu Wismahaksi dari Universitas Atmajaya Yogyakarta. Adapun Baruga Tambi dihasilkan Raynaldo Theodore dari Universitas Parahyangan Bandung.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Cuci Muka dengan Air Kelapa, Jerawat pun Lenyap 
    Sundul Bola Berbahaya bagi Anak
    Wakai, Toms, dan Tren Sepatu Kanvas 
    Baby Growth Spurts, Waktunya Bayi Rewel  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.