Di Kota Tua Jakarta Ada 182 Artefak Disia-siakan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wisatawan memadati kawasan Kota Tua, Jakarta, (31/01). Kawasan kota tua menjadi salah satu tempat rekreasi untuk mengisi libur tahun baru Imlek 2565. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Sejumlah wisatawan memadati kawasan Kota Tua, Jakarta, (31/01). Kawasan kota tua menjadi salah satu tempat rekreasi untuk mengisi libur tahun baru Imlek 2565. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada pesan yang dapat diambil dari pelaksanaan Kota Tua Creative Festival (KTCF) 2014 di Kota Tua pada 21-22 Juni lalu. Yakni upaya mendorong kreator, seniman, arsitek, dan desainer untuk menjadi sumber daya penggerak ruang publik di Jakarta.

    Program Jakarta Old Town Reborn (JOTR) ini menggabungkan tujuh tim arsitek dari Belanda dan Indonesia yang bekerja sama dengan pemerintah dan pemilik bangunan agar menghidupkan kembali enam bangunan bersejarah di sekitar Kali Besar dan Lapangan Fatahilah.

    Kepala kurator, Yori Antar, mengatakan selama ini Kota Tua kehilangan jiwa. Ada 182 artefak peninggalan kolonial yang disia-siakan, berada di lingkungan buruk, dan terkena polusi.

    Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu, ketika meninjau proyek yang diadakan di gedung Kerta Niaga pada 22 Juni 2014, untuk melakukan revitalisasi, pihaknya akan mengusulkan dana dan mencari investor bagi wilayah Kawasan Strategis Pariwisata Nasional ini.

    Yori mengatakan JOTR berkonsentrasi pada enam proyek arsitektural di beberapa tempat yang  dihubungkan untuk menjadi master plan lanskap. Yakni Sadeli House, Samudera, Kota Tua Green City, Ruang Ragam, dan Kota Bawah.

    Semua ini dilakukan untuk menciptakan ruang-ruang fisik bagi publik di Kota Tua. Program ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Liveable Cities Task Force sebagai bagian dari Indonesian Diaspora Network yang didukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda, dan pemangku kepentingan lainnya.

    Yori berharap gedung-gedung di Kota Tua bisa berfungsi sebagai museum budaya yang didukung dengan kafe dan restoran. (Baca :Ahok : Jakarta Harus Banyak Festival)

    "Seperti wisata Kota Tua Venezia di Italia yang dulu terbengkalai, tapi setelah pemerintah  membuat karnaval topeng dan acara budaya, Venezia kini menjadi daya tarik bagi turis mancanegara," kata Daliana Surya Winata, arsitek Belanda dan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Uni Eropa.

    Menurut Daliana, gambar yang ditunjukkan dalam tujuh proyek itu menunjukkan gedung-gedung tua ini bisa dibuat menjadi beberapa bentuk, seperti kafe, picnic site, lokasi pemutaran film, hotel, studio foto, dan restoran.

    "Semacam test program untuk gedung-gedung ini, apakah mereka akan pakai nantinya atau tidak," kata lulusan Berlage Institute yang kini bekerja sebagai arsitek dan pengajar di Rotterdam, Belanda, itu.

    Daliana mengatakan penyelenggaraan KTCF ini merupakan langkah awal pembangunan Kota Tua Jakarta sehingga bisa menyerupai Venezia di Italia atau Malaka di Malaysia. 

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Anda Mengalami Dehidrasi? Ini Cara Mudah Mengenalinya
    Kebanyakan Nonton TV Picu Kematian Dini
    PBB: Narkoba Bunuh 200 Ribu Orang Tiap Tahun
    Enam Manfaat Ajaib Minyak Kelapa


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.