Melayu Festival 2014, Satukan Bangsa Lewat Musik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Musisi Melayu Indonesia Hamdan ATT. ANTARA FOTO/Teresia May

    Musisi Melayu Indonesia Hamdan ATT. ANTARA FOTO/Teresia May

    TEMPO.CO, Jakarta - Musik Melayu mengakar di masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Namun genre ini kini kurang dilirik industri Tanah Air.

    Berawal dari idealisme mengangkat harkat musik Melayu, Gita Cinta Production akan menggelar Jakarta Melayu Festival untuk ketiga kalinya pada 22 Agustus 2014 di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

    Hal ini disampaikan oleh produser Gita Cinta Production, Geisz Chalifah, kepada wartawan di Galeri Cafe, Taman Ismail Marzuki, Rabu, 18 Juni 2014. Hadir dalam acara ini tokoh intelektual dan akademikus Anies Baswedan serta politikus Fadli Zon.

    Setelah konser bertema "Bulan di Pagar Bintang "digelar pada 16 Januari 2013, serta konser "Kemerdekaan Musik Melayu Seroja" pada 30 Agustus 2013, pada 2014 ini akan digelar Jakarta Melayu Festival 2014 dengan tema "Melayu Menyatukan Kita".(Baca : Sulis Menyanyi Lagu Melayu | -senihiburan- | Tempo.co)

    Acara ini akan didukung beberapa musikus dan penyanyi, seperti Fadly (Padi), Uma Tobing (juara Indonesia Mencari Bakat Trans TV), Novi Ayla (KDI), Rafly Kande, Darmansyah Ismail, Niken Astri (KDI), Duo Shahab, Amigos Band, serta penggesek biola ternama, Hendri Lamiri; dan pemain akordeon, Buthonk, dengan music director Anwar Fauzi Orchestra.

    Geisz mengatakan dampak musik pop telah menggerus budaya dan seni bangsa Indonesia."Musik pop mengalahkan musik asli Indonesia," katanya.

    Dalam kesempatan ini, Anies Baswedan mengatakan ikhtiar untuk menjaga tradisi musik Melayu sepatutnya mendapatkan dukungan yang sangat besar, "Meski sering kali kegiatan festival musik Melayu perlu ditingkatkan lebih jauh, agar kita mampu membawa musik Melayu ke level global."

    Ia menambahkan, musik Melayu bisa diikhtiarkan sebagai tren musik dunia. Adapun Fadli Zon mengatakan dia mengumpulkan lagu-lagu Melayu Indonesia dari tahun 1936 hingga kini. "Musik Melayu menghadapi tantangan globalisasi. Di era globalisasi, siapa yang kuat, dia yang menang," katanya. Bagi Fadli, musik Melayu adalah aset nasional yang mempunyai identitas yang berbeda dengan genre musik lainnya.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Film How to Train Your Dragon 2, Terbang Tinggi
    Lagu-lagu Adele Bakal Lenyap dari YouTube?
    Dragon Blade, Film Jackie Chan dan John Cusack
    Anak Jude Law Jadi Model Pakaian Pria DKNY  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.