Mesin Waktu Bernama Peter Cetera

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peter Cetera, mantan vokalis kelompok musik Chicago, tampil dalam konsernya

    Peter Cetera, mantan vokalis kelompok musik Chicago, tampil dalam konsernya "The Inspiration" di Kota Kasablanka Jakarta, 6 Juni 2014. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - “Apa kabar Jakarta? Kalau kalian hafal lagu ini, mari bernyanyi bersama,” kata pria berjas hitam yang kemunculannya diiringi tepuk tangan riuh penonton yang hadir.  Stay the Night, hits dari band Chicago, pun meluncur, langsung dari tenggorokan sang penyanyi aslinya.

    Ya, Peter Cetera, mantan personel Chicago yang kemudian sukses bersolo karier ini memang menggelar konser solo perdananya di Indonesia. Konser bertajuk The Inspiration itu berlangsung di The Kasablanka Concert Hall yang berada di pusat belanja Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat malam lalu.

    Berada di tengah konser penyanyi berusia 68 tahun ini rasanya memang seperti diterbangkan dengan mesin waktu kembali ke era 1970 hingga 1990-an. Sebagian besar penonton konser yang harga tiketnya berkisar Rp 800 ribu hingga Rp 2 juta itu berasal dari kalangan usia 30-an ke atas.  Cetera tak hanya membawakan lagu-lagu nostalgia dengan aransemen musik yang tak jauh berbeda dengan aslinya. Ia juga memamerkan suara khasnya yang jarang ditemukan pada penyanyi saat ini. Tak lupa pula gaya flamboyannya, bergoyang sambil mengedikkan bahu.

    Lagu yang dibawakan Cetera dalam konser yang berdurasi kurang dari satu setengah jam ini terhitung tak banyak, hanya 14 lagu. Pada usia yang separuh baya, kualitas suara Cetera masih terbilang prima, meski beberapa kali ia harus mengambil jeda istirahat.

    Selain hits dari album solonya, seperti Glory of Love, Restless Heart, atau Happy Man, Cetera membawakan lagu-lagu Chicago yang ia ciptakan, seperti You’re the Inspiration dan Hard to Say I’m Sorry. Cetera, yang merupakan mantan bassist merangkap vokalis Chicago, memang banyak menciptakan lagu hits dari band asal Amerika Serikat tersebut. Ditemani oleh penyanyi pengiring wanitanya, ia juga menyanyikan lagu duetnya, seperti The Next Time I Fall, yang dulu dinyanyikan bersama Amy Grant.

    Sepanjang konser, Cetera tampil sangat komunikatif, kalau tak bisa dikatakan ceriwis. Setiap jeda di antara lagu, ia tak pernah absen berbicara panjang-lebar, entah untuk menyapa penonton atau menceritakan latar belakang sejarah lagu yang akan dimainkannya. Misalnya saja, ketika ia hendak membawakan Glory of Love—soundtrack dari film sukses, Karate Kid, yang dirilis tahun 1984—yang mendapat sambutan paling hangat malam itu.

    “Ini sebelumnya sempat akan digunakan untuk film lain, namun tak jadi. Akhirnya digunakan untuk film Karate Kid, dengan beberapa perubahan kata di liriknya,” ujar pria berambut pirang kelabu ini.

    Tak jarang Cetera juga bercanda dengan penonton. Misalnya, ketika ia menceritakan bahwa lagu Happy Man sempat menjadi lagu yang banyak diminta di radio-radio Amerika Serikat, bahkan sempat menyalip posisi  lagu ikonik milik Led Zeppelin, Stairway to Heaven, dalam tangga lagu radio kala itu. “Rasakan itu, Led Zeppelin,” ujarnya.

    Setelah anggota band-nya menyanyikan dua lagu The Beatles, Oh Darling dan Come Together, ketika Cetera beristirahat, sang penyanyi pun kembali mengeluarkan celetukan yang memancing tawa penonton.  Cetera menyatakan menyanyikan lagu dari band legendaris ini memang selalu menyenangkan. “Tapi persetan dengan The Beatles, konser ini tentang aku,” ujarnya, disambut tawa penonton. Selain aktif berkomunikasi dengan penonton, bisa dibilang tak ada kejutan lain dari konser malam itu.

    Peter Cetera meraih tangga kesuksesan setelah bergabung dengan Chicago, ketika band ini masih bernama The Big Thing, dan menjadi salah satu vokalis utama. Memasuki era 1970-an, ia makin banyak menulis lagu untuk band ini, termasuk hits yang meraih sukses besar untuk Chicago, If You Leave Me Now, Baby, dan What A Big Surprise.

    Pada 1981, ia sempat mengeluarkan album solo perdana yang menggunakan namanya sebagai judul album. Adapun pada pertengahan 1980-an, nama Chicago makin mendunia, termasuk berkat lagu ciptaan Cetera. Kesuksesan ini mendorong Chicago melakukan tur panjang, bertentangan dengan keinginan Cetera yang hendak fokus pada solo kariernya.  Ia akhirnya keluar dari band ini pada 1985, dan meraih sukses lewat Glory of Love, yang diciptakan bersama David Foster setahun setelahnya. Lewat lagu ini, ia dan Foster dinominasikan sebagai peraih Oscar dan Golden Globe 1986 untuk kategori Best Original Soundtrack.

    RATNANING ASIH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?