Pembunuhan Wartawan Indonesia Difilmkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekelompok pengamen bermain musik di depan sebuah bangunan dengan mural TTS seri Pers dan Media di Jalan Munggur Kota Yogyakarta (14/3). Mural itu dilengkapi gambar wajah Udin, wartawan Bernas yang tewas akibat dianiaya orang tak dikenal 17 tahun lalu. Meski demikian, hingga kini polisi tak berhasil mengungkap pelakunya. TEMPO/Anang Zakaria

    Sekelompok pengamen bermain musik di depan sebuah bangunan dengan mural TTS seri Pers dan Media di Jalan Munggur Kota Yogyakarta (14/3). Mural itu dilengkapi gambar wajah Udin, wartawan Bernas yang tewas akibat dianiaya orang tak dikenal 17 tahun lalu. Meski demikian, hingga kini polisi tak berhasil mengungkap pelakunya. TEMPO/Anang Zakaria

    TEMPO.CO, Bandung - Sejumlah kasus kekerasan dan pembunuhan jurnalis Indonesia diangkat ke layar lebar. Berjudul Kabar, Kubur, Kabur, film dokumenter itu mengangkat kisah empat jurnalis, yakni Didik Herwanto, Udin, Ridwan Salamun, dan Sori Ersa Siregar.

    Film itu diawali dengan kisah Didik Herwanto, fotografer Riau Pos, yang dianiaya anggota TNI Angkatan Udara, Letnan Kolonel Penerbang Robert Simanjuntak, ketika hendak mengambil gambar pesawat tempur Sky Hawk yang jatuh di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, 16 Oktober 2012. Didik dibanting ke tanah lalu kameranya dirampas. Pengadilan Tinggi Militer I Medan menghukum pelaku dengan vonis 3 bulan penjara dikurangi masa kurungan sementara. (Baca: POM TNI Pengusut Kekerasan Wartawan Padang)

    Kasus selanjutnya, pembunuhan wartawan Harian Bernas Jogja, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin. Menurut sutradara film tersebut, Helena Souisa, kasus Udin menjadi memicu pembuatan film dokumenter ini.

    "Awalnya, karena kasusnya disebut akan kadaluwarsa, tapi di film hal itu dibantah Artidjo Alkostar," katanya saat diskusi seusai pemutaran film itu di Bandung, Jumat, 30 Mei 2014.

    Film yang berdurasi sekitar 45 menit itu juga ikut mengenang kematian jurnalis televisi Sori Ersa Siregar yang tertembak anggota TNI saat ditawan kelompok Gerakan Aceh Merdeka pada 29 Desember 2003. Berikutnya, Ridwan Salamun, jurnalis Sun TV di Tual, Maluku, pada Agustus 2010. Helena mengaku sangat emosional karena Ridwan merupakan kontributor di perusahaannya dulu.

    Helena menyajikan tayangan yang belum pernah dilihat publik sekaligus bukti yang melawan pernyataan aparat keamanan. Gambar itu berupa detik-detik sebelum Ridwan tewas. Ia tergeletak di pinggir jalan di antara kaki orang-orang. Menurut Helena, Ridwan terkapar selama 1,5 jam tanpa mendapat pertolongan. "Terlihat ada truk polisi melintas. Polisi sebelumnya bilang tidak masuk ke kerumunan massa," ujarnya. (Baca: Setahun, 20 Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Papua)

    Film yang dibuat atas kerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen dan Lembaga Bantuan Hukum Pers itu diselingi potongan-potongan gambar saat peringatan Hari Pers Nasional 2014 di Bengkulu. Helena memadukan suasana acara dengan keramaian pedagang kaki lima di luar arena sebagai ironi. "Di acara itu juga tidak dibicarakan para jurnalis yang disiksa dan dibunuh," kata mantan jurnalis sejumlah televisi nasional itu.

    Pembuatan film itu dirintis pada 2013 dan rampung Maret lalu. Film tersebut mulai ditayangkan April 2014. Pemutaran perdana di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selanjutnya, dibawa keliling ke sejumlah lembaga seperti Aliansi Jurnalis Independen di sejumlah daerah. (Baca: Dianiaya, Wartawan Kompas TV Lapor ke Polda DIY)

    ANWAR SISWADI

    Terpopuler:
    Bocah ‎Disetrum Saat Warga Katolik Sleman Diserang

    Gunung Meletus, 133 Warga Terjebak di Sangeang Pulo

    Pangdam Tanjungpura Minta 10 Tank untuk Perbatasan 

    Massa Berjubah Kembali Datangi Rumah Julius  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.