Buku Antologi Puisi 8 Tahun Lapindo Diluncurkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga mengangkat patung manusia lumpur untuk di tancapkan di atas lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo, (26/5). Penancapan 110 patung manusia lumpur ini untuk memperingati 8 tahun semburan lumpur lapindo pada 29 Mei nanti.  TEMPO/Fully Syafi

    Seorang warga mengangkat patung manusia lumpur untuk di tancapkan di atas lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo, (26/5). Penancapan 110 patung manusia lumpur ini untuk memperingati 8 tahun semburan lumpur lapindo pada 29 Mei nanti. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Memperingati delapan tahun tragedi semburan lumpur Lapindo, puluhan sastrawan dari berbagai daerah meluncurkan buku antologi puisi berjudul Gemuruh Ingatan. Editor buku tersebut, Raudal Tanjung Banua, mengatakan ide menerbitkan antologi puisi itu berawal satu bulan lalu, ketika panitia punya rencana memperingati semburan lumpur dengan aksi teatrikal.

    Panitia menyebarkan pengumuman itu di media massa. Ternyata banyak yang merespons ingin berpartisipasi dengan mengirimkan berbagai macam puisi. "Mereka mengirimkan kepada panitia yang kemudian diteruskan ke email saya," kata Raudal seusai meluncurkan bukunya, Kamis, 29 Mei 2014.

    Menurut Raudal, puisi yang masuk sangat banyak. Kiriman datang dari berbagai kota di Indonesia, seperti Bogor, Tasikmalaya, Jakarta, Padang, Surabaya, Yogyakarta, Madura, Sampit, Bali, Semarang, bahkan Melbourne, Australia. "Rata-rata mereka mengirimkan satu sampai tiga puisi pada kami," kata dia.

    Karena kiriman dianggap terlalu banyak, puisi-puisi itu disaring berdasarkan penilaian editor dan diterbitkan ke sebuah buku antologi. "Yang kami terbitkan sebanyak 125 puisi karya 78 sastrawan," kata dia. (Baca: Jelang 8 Tahun, Korban Lapindo Pasang 110 Patung)

    Tema puisi, ujar Raudal, umumnya seputar peringatan delapan tahun lumpur Lapindo ditinjau dari berbagai aspek. Misalnya luapan kemarahan seorang sastrawan kepada PT Minarak Lapindo Jaya yang tak kunjung melunasi ganti rugi. Luapan kemarahan juga ditujukan kepada pemerintah yang tidak berani bertindak tegas. "Para sastrawan sangat prihatin kepada nasib korban lumpur yang tertindas," katanya.

    Agar tragedi lumpur itu tidak hilang dari ingatan rakyat Indonesia, kata Raudal, antologi puisi itu diberi judul Gemuruh Ingatan, yang berarti ingatan akan semburan lumpur itu tidak akan pernah padam. "Semoga sentuhan dengan sastra ini lebih didengar oleh perusahaan dan pemerintah untuk segera melunasi ganti rugi korban lumpur," kata dia. (Baca: Ganti Rugi Tak Jelas, Korban Lapindo Mengamuk)

    MOHAMMAD SYARRAFAH

    Terpopuler:

    Chairul Tanjung Emoh Ajak Pejabat Naik Pesawatnya
    Penampilan Anggun dan Agnez Mo di Red Carpet
    Berpose Seksi, Sara Wijayanto Kecewa Dicap Porno


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.