Sang Pemberani, Film Karate Berlatar Tsunami Aceh  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita membaca daftar orang hilang korban gempa dan gelombang tsunami yang dipasang di posko relawan Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, 4 Januari 2005. DOK. TEMPO/Hariyanto

    Seorang wanita membaca daftar orang hilang korban gempa dan gelombang tsunami yang dipasang di posko relawan Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, 4 Januari 2005. DOK. TEMPO/Hariyanto

    TEMPO.CO, Jakarta -- Film keluarga yang diangkat dari kisah nyata tentang seorang bocah karateka korban tsunami Aceh, Sang Pemberani, tayang di bioskop mulai 22 Mei 2014 dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.

    Produser eksekutif film yang berlokasi di Aceh, Bali, hingga Jepang tersebut, Ary Ginanjar, mengatakan film ini memuat pesan tentang kebangkitan dan nasionalisme yang kental. "Melalui film ini kita ingin bangsa kita bangkit karena biasanya kita puas hanya menjadi medioker. Tapi kali ini kita ingin anak-anak bangsa punya semangat dan mental juara, juga rasa nasionalisme yang tinggi," kata Ary di Jakarta, Sabtu, 17 Mei 2014.

    Dia menyambung, "Hal itu terlihat dari kisah Madi, sang tokoh utama, yang merupakan anak korban tsunami, tapi justru bangkit dan menjadi juara karate internasional."

    Bakhtiar Rakhman, yang juga produser eksekutif film ini, mengatakan pada 20 Mei nanti akan digelar nonton bareng ribuan guru dan anak yatim, bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta di Senayan City.

    Sang Pemberani mengisahkan kehidupan satu keluarga yang terpuruk akibat tsunami yang melanda daerahnya. Sang tokoh utama, Madi, yang diperankan pendatang baru yang juga atlet karate asli Aceh, Ahmad Reza Hariyadi, adalah remaja yang berjuang hidup bersama ibunya (Artika Sari Devi) dan adik perempuannya (Annisa Asegaf) setelah ayah dan kakak laki-laki yang juga juara karate meninggal dunia.

    Berjuang menata kembali hidupnya itu, Madi tekun belajar karate dengan membantu rekannya di pasar, Adoy yang diperankan Edwin "Superbejo". Sampai kemudian Madi berteman dengan suami-istri warga Jepang yang ditolongnya di Bali--diperankan oleh sineas kenamaan Jepang Rina Takeda dan Kaname Kawabata.

    Film yang skenarionya ditulis Salman Aristo, yang juga pernah menggarap film-film inspiratif seperti Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan Garuda di Dadaku itu--disebut sebagai film Karate Kid-nya Indonesia.

    "Sang Pemberani ingin menyampaikan pesan tujuh budi utama karate, seperti keadilan, keberanian, kesetiaan, kesopanan, ketulusan dan tanggung jawab," kata Bakhtiar.

    Film produksi Eclips film dan B-Edutainment dan ESQ Group ini dibintangi Tio Pakusadewo sebagai guru karate Madi, Artika Sari Devi, Edwin Super Bejo, Annisa Assegaf, Ibrahim Imran (Baim), Nyoman Sumayasa, dan aktor laga 1980-an Willy Dozan, selain juga Kaname Kawabata dan Rina Takeda.

    ANT | ALIA

    Berita Lain:
    Husein Idol Kedatangan Fans dari Arab Saudi
    Emma Watson Lulus dari Brown University
    Himpun Dukungan di Idol, Nowela Datangi Papua


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?