Seruan Tak Pilih Jokowi, Ikang: Jangan Remehkan Rhoma  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ikang Fawzi. Dok. TEMPO/Aryus P. Soekarno

    Ikang Fawzi. Dok. TEMPO/Aryus P. Soekarno

    TEMPO.CO, Jakarta - Musikus Ikang Fauzi mengatakan langkah penyanyi dangdut Rhoma Irama yang menyerukan kepada pendukungnya untuk tidak mendukung Joko Widodo, calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, jangan diremehkan kubu Jokowi. (Baca: Mega Resmikan Jokowi sebagai Calon Presiden)

    "Rhoma Irama sebuah legenda dan ikon besar di musik dangdut, enggak bisa dianggap remeh," kata Ikang kepada Tempo, Selasa, 13 Mei 2014. "Apa yang diucapkan akan dilakukan dan diamini massa penggemarnya," ujar penyanyi rock itu.

    Dalam dunia musik dan hiburan, kata dia, apabila seseorang sudah menjadi legenda dan ikon besar, akan menjadi pakem atau sesuatu yang mesti dan selalu dituruti. Suami Marissa Haque ini menilai para penggemar Rhoma punya ikatan emosional yang cukup tinggi, karena proses untuk menjadi massa pendukung raja dangdut itu dibangun dalam waktu panjang, bertahun-tahun.

    Sebagai raja dangdut, dia menambahkan, apa yang dilakukan dan diucapkan Rhoma menjadi sebuah kekuatan. "Di musik, apa yang dilakukan dan diucapkan seorang idolanya seperti fatwa yang ditindaklanjuti penggemar. Soal begini, jangan dianggap remeh," tuturnya.

    Politikus Partai Amanat Nasional itu menilai apa yang dilakukan Rhoma tersebut sebagai bentuk kekecewaannya akibat pembusukan politik yang dilakukan Partai Kebangkitan Bangsa, yang awalnya mendukung dirinya sebagai calon presiden, tapi belakangan malah mendukung Jokowi. (Baca: PKB Resmi Dukung Jokowi Jadi Capres)

    "Soal diikuti atau tidak komando Rhoma, kembali lagi ke massanya. Tapi saya percaya, Rhoma sebagai seorang legenda dan ikon punya pengaruh besar pada pendukungnya," kata Ikang.



    HADRIANI P.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.