Produksi Film Nasional Naik 18,4 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Produser film Sang Kiai Sunil Soraya (kiri) membawa Piala Citra untuk kategori film terbaik, disaksikan Menparekraf Mari Elka Pangestu (tengah) dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kanan), pada Malam Penganugerahan FFI 2013 di Marina Convention Centre Semarang, Jateng, Sabtu (7/12) malam. ANTARA/R. Rekotomo

    Produser film Sang Kiai Sunil Soraya (kiri) membawa Piala Citra untuk kategori film terbaik, disaksikan Menparekraf Mari Elka Pangestu (tengah) dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kanan), pada Malam Penganugerahan FFI 2013 di Marina Convention Centre Semarang, Jateng, Sabtu (7/12) malam. ANTARA/R. Rekotomo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu menjelaskan, produksi film nasional hingga April 2014 sudah mencapai 45 judul yang telah lulus sensor atau terjadi peningkatan sebesar 18,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

    Tahun lalu jumlah produksi film Indonesia hanya 105 judul film. Mari optimistis tahun ini jumlah produksi akan meningkat. Peningkatan tersebut juga akan diikuti dengan peningkatan kualitas sehingga banyak film Indonesia yang diperhitungkan di dunia internasional.

    Mari menyebutkan beberapa judul film Indonesia yang populer di mata masyarakat film internasional, seperti The Raid 2: Berandal. Menurut Mari, dalam pertemuan atau festival film internasional, para produser dunia sering menyebutkan film tersebut kepada delegasi Indonesia.

    Dari 45 judul film yang telah lulus sensor pada 2014, beberapa di antaranya punya kualitas dan sukses tayang di gedung bioskop, antara lain 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2, Sepatu Dahlan, Princess, Bajak Laut & Alien, Kau dan Aku Cinta Indonesia, Sayap Kecil Garuda, Comic 8, serta Killers, yang merupakan film hasil kolaborasi antara Indonesia dan Jepang.

    Untuk meningkatkan apresiasi masyarakat internasional bagi film Indonesia, pada 28 April-1 Mei 2014 telah dilaksanakan Mini Film Festival Indonesia.   

    Mari mengatakan, “Film adalah juga cara yang baik karena secara visual dan menyentuh perasaan kita dapat promosi sejarah, budaya, lokasi, dan cerita mengenai diaspora Indonesia. Dengan demikian hal tersebut dapat meningkatkan rasa ingin tau yang berakhir pada kunjungan ke Indonesia, serta pemahaman yang lebih baik." (Baca : Film Nia Dinata Terfavorit di Festival Film Unlike)

    Meningkatnya jumlah produksi film nasional tersebut semakin menguatkan peran penting sektor ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional yang dalam beberapa tahun terakhir ini terus meningkat.

    Pada 2013, kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian sebesar Rp 641,8 triliun atau mencapai 7 persen PDB nasional. Nilai surplus perdagangan ekonomi kreatif selama periode 2010 hingga 2013 sebesar Rp 118 triliun, sehingga kontribusi devisa sektor ekonomi kreatif ini mencapai US$ 11,89 miliar. Dengan demikian, total kontribusi devisa dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif mencapai US$ 21,95 miliar atau 11,04 persen dari total devisa Indonesia.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Sinetron Kau Yang Berasal Dari Bintang Dihentikan RCTI
    Spider-Man yang Manusiawi, Tidak Kaku dan Serius
    Yuka Tersingkir pada Babak 4 Besar Indonesia Idol
    Terlalu Pandai, Ben Affleck 'Diusir' dari Kasino  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah KLB Partai Demokrat, Apa Kata AD/ART?

    Sejumlah kader ngotot melaksanakan KLB Partai Demokrat. Kubu AHY mengatakan bahwa pelaksanaan itu ilegal. Pasal-pasal AD/ART Partai dapat menjelaskan.