Festival Wayang untuk Pelajar di Ubud  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wayang Suket hasil karya Budriyanto asal Desa Wlahar Rembang Purbalingga. Wayang suket merupakan hasil karya Almarhum Mbah Gepuk yang pernah populer tahun 1990-an. Dibuat dari Suket atau Rumput Kasuran yang hanya tumbuh di bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Kini hanya dua orang yang bisa membuat wayang dengan tingkat kesulitan tinggi ini. TEMPO/Aris Andrianto

    Wayang Suket hasil karya Budriyanto asal Desa Wlahar Rembang Purbalingga. Wayang suket merupakan hasil karya Almarhum Mbah Gepuk yang pernah populer tahun 1990-an. Dibuat dari Suket atau Rumput Kasuran yang hanya tumbuh di bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Kini hanya dua orang yang bisa membuat wayang dengan tingkat kesulitan tinggi ini. TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Ubud - Sekitar 1.500 siswa SMA dan SMP mengikuti Festival Wayang untuk Pelajar di Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma, Ubud, 15-17 April 2014. Mereka akan mendapatkan pelatihan dan lokakarya serta bisa menonton langsung penampilan sejumlah dalang.

    Kegiatan itu diharapkan akan mendekatkan kembali wayang dengan kalangan anak muda. “Wayang mengandung filosofi, ilmu pengetahuan, seni, bahasa, serta teladan perilaku yang berguna bagi kehidupan kita,” kata kurator Rumah Topeng, Agus Prayitno, Selasa, 15 April 2014. 

    Menurut Agus, wayang kini dikhawatirkan makin tergerus kehadiran media-media baru yang semakin canggih namun menyebarluaskan nilai-nilai dan perilaku yang tak bersumber dari budaya bangsa.

    Jenis wayang yang akan dipertontonkan antara lain wayang Sasak, wayang modern Bali, dan wayang inovasi, yang sering disebut Wayang Listrik. Adapun lokakarya akan dipandu dalang terkemuka, Made Sidia. Sidia akan mengajak peserta lokakarya mengenali karakter wayang, dan kemudian mencoba membuatnya sendiri.

    Menurut Sidia, antusiasme anak-anak dan remaja terhadap wayang, khususnya di Bali, masih sangat tinggi. Sidia, yang pernah menggelar lokakarya di Singapura, Australia, dan sejumlah negara lainnya, menyatakan wayang juga menarik bagi anak-anak muda di luar negeri. “Persoalannya adalah mencari metode yang tepat agar mereka bisa merasakan langsung keasyikan bermain wayang,” ujarnya.

    Sidia sendiri selalu mencari inovasi dalam menampilkan wayang, misalnya, dengan mengkombinasikannya dengan proyektor dan media-media lain. Selain itu, ada pula upaya menciptakan efek suara, pencahayaan, dan penciptaan suasana. Sidia bahkan bisa meramu cerita yang menggabungkan latar tradisional dengan kondisi kekinian.

    Selaku sponsor, BCA mengatakan Festival Wayang untuk Pelajar merupakan bagian dari upaya mereka mendorong anak muda untuk mengenali budayanya sendiri. Sebelumnya, BCA sudah menggelar acara wayang masuk mal serta membuat seri dokumentasi wayang yang disiarkan di televisi. "Kami percaya pengenalan budaya sendiri itu sangat penting. Apalagi ada nilai-nilai luhur di dalam tradisi wayang,"  kata Komisaris Independen BCA Cyrillius Hernowo.

    ROFIQI HASAN 


    Terpopuler:
    Dua Karakter Robot Baru di Film Transformers

    Ibu Selena Gomez Kaget Dipecat Sebagai Manajer

    Eko Patrio Dukung Jokowi Jadi Presiden  
     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.