Cinta Penelope Ambil Job Kampanye jika Partai Sumbang Satinah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cinta Penelope. instagram.com/i/my_penelopers

    Cinta Penelope. instagram.com/i/my_penelopers

    TEMPO.CO, Jakarta - Jika para selebriti berlomba-lomba mengumpulkan rezeki pada musim kampanye, Cinta Penelope justru sibuk mengumpulkan sumbangan untuk Satinah, tenaga kerja Indonesia yang dijatuhi hukuman pancung di Arab Saudi.

    Pada musim kampanye seperti saat ini, Cinta mengaku mendapat banyak tawaran dari partai politik. Namun tidak semua tawaran manggung dia terima. "Saya memanfaatkan momen kampanye ini untuk membantu Satinah," kata Cinta kepada Tempo, Selasa, 25 Maret 2014.

    Cinta menyatakan memberi syarat khusus kepada partai yang ingin memakai jasanya. "Saya memaksa mereka menyumbang untuk Satinah. Jika mereka tidak mau, saya menolak tawarannya.

    "Saat ini saya hanya fokus pada kasus Satinah. Saya berusaha membantu sebisa saya," lanjut Cinta.(baca :Cinta Penelope Ngamen buat Satinah )

    Karena tidak semua partai bersedia menyumbang dan membantu Satinah, Cinta menolak tawaran manggung dari delapan partai. "Ada delapan yang saya tolak, saya memilih tampil untuk tujuh partai karena mereka bersedia menyumbang," kata Cinta.

    Satinah merupakan buruh migran yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Hukuman ini dijatuhkan karena Satinah menyebabkan kematian majikannya ketika berusaha melindungi diri. Untuk terbebas dari hukuman pancung, Satinah wajib membayar ganti rugi sebesar Rp 23 miliar.

    "Satinah diberi waktu sampai 3 April untuk membayar denda tersebut," kata Cinta.

    RINA ATMASARI

    Berita Terpopuler
    Denny dan Shandy Pasangan Hoki di Film Horor
    Mall Klender, Film Horor Berlatar Kerusuhan 1998 
    Film Son of God Tayang di Blitz Mulai 9 April 2014 
    Siapkan Pernikahan, Tantri Akan Buat Pesta Rakyat


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.