Konser Eric Clapton Tanpa Cocaine (3-habis)  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konser Eric Clapton di  Singapore Indoor Stadium, (4/3). TEMPO/Yos Rizal

    Konser Eric Clapton di Singapore Indoor Stadium, (4/3). TEMPO/Yos Rizal

    TEMPO.CO, Singapura - Di panggung itu, Eric Clapton menumpahkan apa yang oleh Jimi Hendrix sebut sebagai gelegak blues. "Saat engkau memainkan blues, pantulan dunia dan pantulan sejarah hidupmu ada di blues," ucap Hendrix.

    Segera saja terbayang diorama Clapton saat ia membawakan 16 lagu Selasa 4 Maret malam di Singapore Indoor Stadium. Lewat "Hoochie Coochie Man" yang melukiskan seorang bocah yang diramalkan seorang gypsy bakal menjadi "son of the gun", misalnya, kita tahu tentang kehidupan Clapton kecil yang keras.

    Kaget bahwa dua orang yang menyayanginya sejak kecil ternyata bukan ayah-ibunya, tapi kakek-neneknya, membuat ia kecewa pada hidup. Clapton pun kemudian lebih percaya pada jalanan. Ia terjun di dunia yang keras dan mematikan. Ia tenggelam dalam ketergantungan obat-obatan yang nyaris menamatkannya.

    Karena itu nomor "Cocaine" yang menjadi salah satu pantulan kisah hidupnya itu begitu ditunggu penonton. Begitu pula "Tears in Heaven" yang bertutur tentang Clapton yang kehilangan anaknya yang jatuh dari apartemen. Satu lagi, tentu saja "Layla" yang kerap dihubungkan dengan kebengalan Clapton saat merebut kekasih sahabatnya, gitaris The Beatles, George Harrison.

    Tapi penggemar Clapton yang sudah dihanyutkan dalam keindahan blues sejak pukul 20.20 rupanya harus kecewa. Tak ada "Cocaine" seperti ada dalam daftar lagu lima konsernya di Jepang pada Februari lalu. Kendati penonton berteriak "we want more!" berulang-ulang,  tak ada "Cocaine" yang tersaji di hadapan penonton. Sungguh sayang.

    Untunglah Clapton menyuguhkan nomor-nomor akustik yang lebih banyak dari konsernya terdahulu. Sebanyak lima dari 16 lagu dimainkan secara akustik, termasuk "Layla". Empat lagu lain: "Drifting Blues", "Nobody Knows", "Alabama Woman Blues" dan "Tears in Heaven". Dari nomor akustik ini, suasana ngelangut segera melenakan penonton.

    Lima lagu itu telah membawa penonton ke suasana yang lebih privat. Mereka seperti diayun-ayun ke dalam keheningan malam. Clapton benar-benar lihai membawa siapa pun pendengarnya ke jantung blues yang menyayat-nyayat malam. Ia tampak dengan sabar dan tenang menyuguhkan petikan-petikan gitarnya yang bening untuk merebut hati penonton dan membawanya ke dalam pelukan blues. Ah, sepotong malam yang tak tergantikan.

    Saat konser berakhir pukul 22.00, dan para penonton kembali menyelinap ke gerbong-gerbong kereta atau menembus jalanan yang lengang, denting-denting gitar dan vokal Clapton itu masih terngiang di kepala. "I'll find my way/ through night and day/ Cause I know i just can't stay/Here in heaven/..." (habis)

    YOS RIZAL SURIAJI (Singapura)

    Terkait:

    Eric Clapton dan Singapura yang Kelewat Kalem (1)
    Malam Blues yang Tak Akan Pernah Datang Lagi (2)


     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.