Mengenang Cerita Lucu Romo Mangunwijaya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melayat jenazah Romo Mangun di Gereja Kathedral. Dok. DONNY METRI

    Warga melayat jenazah Romo Mangun di Gereja Kathedral. Dok. DONNY METRI

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Beberapa hari sebelum meninggal, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya--lebih dikenal dengan nama Romo Mangun--mengumpulkan seluruh karyawannya di Sekretariat Dinamika Edukasi Dasar. Bertempat di Wisma Kuwera, Mrican, Sleman, Yogyakarta, Sekretariat begitu hening waktu itu.

    Romo Mangun berpesan agar semua yang berkumpul tak bersedih dan menangis sepeninggalnya nanti. “Jangan menangis, tapi kalau bisa tertawalah bersama, ha-ha-ha...,” ujar Romo Mangun, seperti ditirukan Nasarius Sudaryono, Senin malam, 24 Februari 2014, di Rumah Budaya Tembi, Bantul, Yogyakarta.

    Nasarius adalah salah satu karyawan di wisma yang juga tempat tinggal Romo Mangun itu. Malam itu, Nasariun membacakan cerita Menjadi Manusiawi: The Daily Wisdom of Mangunwijaya dalam acara bertajuk "Gojekustik Mangunwijaya". Pembacaan buku itu bertujuan mengenang 15 tahun kepergian Romo Mangun, penulis novel Burung-burung Manyar yang meninggal pada 10 Februari 1999.

    Pembacaan dua puluhan kisah Romo Mangun diiringi dengan petikan gitar, gesekan biola, dan tabuhan perkusi dari grup musik Ragnala Coustik. Nasarius bergantian dengan Totok Suryo Nugroho dan Sri Herman Joyo Yoseph membacakan kisah-kisah tentang pribadi Romo Mangun. (Baca: Kisah Romo Mangun di Kali Code)

    Kesederhanaan, kebijaksanaan, dan pandangan hidup peraih Aga Khan Award for Architecture untuk penataan permukiman warga bantaran Kali Code, Yogyakarta, ini tecermin dalam kisah-kisah yang dibagikan. Keseharian Romo Mangun yang penuh kelucuan pun turut diceritakan.

    Salah satunya, ketika suatu hari Romo Mangun memakan biskuit yang sudah kedaluwarsa. Salah seorang karyawan Wisma Kuwera, Marjo, mengingatkan tanggal kedaluwarsanya biskuit tersebut. Romo Mangun merespons peringatan ini dengan enteng. "Yang kedaluwarsa baru tanggalnya, rasanya masih seperti wafer, nanti paling hanya lara weteng (sakit perut)."

    Diceritakan pula ketika Romo Mangun marah karena ada karyawan baru yang tidak memahami kebiasaan Romo yang ditahbiskan pada 8 September 1959 ini. Saat itu kemarahan Romo Mangun mencapai puncaknya hingga badannya gemetar dan rahangnya bergemeretak sampai gigi palsunya keluar dari tempatnya.

    Cerita-cerita lucu dan ringan mengenang Romo Mangun dengan guyonan segar juga disuguhkan Nasarius. Menurut dia, Romo Mangun sering mengajarkan banyak pengetahuan lewat hal-hal kecil. "Berupa candaan dan dialog khas orang awam," katanya. "Kali ini kami ingin Romo Mangun dikenang dari dialog penuh canda yang jujur."

    ADDI MAWAHIBUN IDHOM

    Terpopuler
    Ada Setoran di Balik Label Halal Daging Australia
    Demi Evan Dimas, Risma Batalkan Acara di Jakarta
    Langkah Politik Wali Kota Risma Dinilai Blunder
    Twitter Ridwan Kamil Dibanjiri Protes Jam Malam

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.