Film Cina Raih Beruang Emas dalam Berlinale 2014

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Festival  Film Berlinale International. REUTERS/Tobias Schwarz

    Festival Film Berlinale International. REUTERS/Tobias Schwarz

    TEMPO.CO, Jakarta - Film Cina Bai Ri Yan Huo (Black Coal Tin Ice) karya Diao Yinan memenangkan tertinggi Beruang Emas Festival Film Berlin 2014, sebagai film terbaik.

    The Grand Budapest Hotel karya Wes Anderson  yang banyak dijagokan, memperoleh Beruang Perak Grand Jury —film terbaik setelah Beruang Emas. Sementara film Prancis Aimer Boire Chanter karya empu gaek berusia 92 tahun Alain Resnais Aimer Boir Chanter, memperoleh Beruang Perak Hadiah Alfred Bauer untuk "film yang membuka perpektif sinematografis baru”.

    Film ini dimunculkan bagaikan pertunjukkan teater, hanya perpindahan adegan yang dimunculkan dalam latar realistis.  Sutradara dua film ini, Wes Anderson dan Alain Resnais, tidak hadir di malam penganugerahan.

    Secara keseluruhan, Asia beraya di Berlinale 2014 ini: setengah atau 4 dari seluruh delapan penghargaan, dimenangkan Asia: tiga Cina dan satu Jepang.

    Selain film terbaik, Bai Ri Yan Huo memenangkan Beruang Perak melalui Liao Fan untuk aktor terbaik. Beruang Perak lain untuk Cina diperoleh film ini juga mendapat hadiah Beruang Emas untuk aktor terbaik. Satu lagi Beruang Perak disabet Cina melalui sinematografi terbaik bagi Zang Jian lewat film Tui Na “Blind Massage" — Panti Pijat Tuna Netra, karya sutradara Lou Ye. Adapun aktris Jepang Haru Kuroki, menang sebagai aktris terbaik di film Chiisai Ouchi (The Little House) karya Yoji Yamada.

    Beruang Emas untuk sutradara terbaik dimenangkan sutradara AS Richard Linklater untuk film Boyhood. Sementara tuan rumah Jerman, kebagian sebuah Beruang Perak untuk Bruegemann bersaudara, Anna dan Dietrich, sebagai penulis skenario terbaik untuk film Kreuzweg (Jalan Penyaliban, sutradara Dietrich Bruegemann).

    Sebuah penghargaan lain diperoleh sutradara Meksiko Alonso Ruizpalacios, yang filmnya, Gueros dinobatkan sebagai karya pertama terbaik.

    Sutradara Indonesia, Edwin, kebagian muncul di panggung penyerahan hadiah Berlinale 2014 ini. Sebagai juri film pendek bersama  Edwin bahkan tampil pertama, mengumumkan pemenang Beruang Perak, yang diperoleh Guillaume Caillot untuk film “Laborat." Sebagai juri, ia tetap di panggung pula bersama juri lain, Nuno Rodrigues, saat Ketua juri Christine Tohme mengumumkan pemenang Beruang Emas film pendek terbaik:  "Tant qu’il nous reste des fusils a pompe" karya Caroline Poggi dan Jonathan Vinel.

    Pemenang Beruang Emas —dan hadiah emas di festival film internasional— memang selalu susah ditebak. Tetapi kemenangan Bai Ri Yan Huo (Black Coal Tin Ice) karya Diao Yinan tetap tampak mengejutkan. Sejumlah film lain lebih banyak dijagokan. Khususnya The Grand Budapest Hotel karya Wes Anderson, Kreuzweg karya Dietrich Brueggemann dan film yang pulang dengan tangan hampa, Praia do Futuro karya Karim Aimouz. 

    Tak heran kalau sutradara Diao Yinan sendiri tampak tak percaya tatkala filmnya diumumkan sebagai pemenang penghargaan tertinggi Goldener Baer alias Beruang Emas di Berlinale 2014 ini. Di panggung, saat mesti mengucapkan sambutan kemenangan, ia tetap tampak tak siap: tertegun beberapa jenak sambil tangganya bertumpu pada podium dan matanya menerawang —sebelum akhirnya menyampaikan sambutannya.

    Tanda lain dari ketak terdugaan ini adalah: Black Coal Tin Ice ini tidak termasuk film yang dijadwalkan pemutaran ulangnya untuk hari Minggu ini. Kanggal, pemenang Beruang Emas sebagai film terbaik, tak diputar ulang. (Baca : Film Grand Budapest Hotel Awali Festival Berlinale)

    Betapapun, film Bai Ri Yan Huo memang sebuah film noir yang sangat kuat. Mencekam, dan penuh liku. Dibuka dengan penemuan potongan-potongan mayat di sebuah kawasan industri. Sisa potongan lain tersebar-sebar dalam jarak sangat jauh. Petugas polisi Zhang (Liao Fan) bekerja kerns mengungkap kasus ini. Dan masuk dalam kerumitan tai terbayangkan. Alur film ini terkadang tampak tak terlalu kokoh, namun gambar dan pengadeganannya sangat kuat.   

    Sebelum Beruang Emas, berlangsung penyerahan hadiah lain di gedung lain. Sebuah film Indonesia, “Sepatu Baru” karya lulusan Institut Kesenian Makasar Aditya Ahmad, memenangkan Special Mention untuk film terbaik kedua dari juri anak-anak di kategori Generation KPlus. Ini kategori khusus untuk film yang diperuntukkan bagi penonton anak-anak dan kaum muda. Hadiah Beruang Kristal kategori ini dimenangkan Sprout karya sutradara Korea Utara Ga-eun Yoon.

    Menurut Direktur Berlinale Dieter Kosslick, Festival ke 64 ini mencatat rekor baru dalam jumlah penonton: setidaknya 330 ribu karcis terjual hingga Sabtu —malam penyerahan hadiah.  Resminya Berlinale 2014 masih berlangsung hingga Minggu malam ini —dengan berbagai pemutaran dan acara.

    GING GINANJAR (BERLIN)

    Berita Terpopuler
    Trio Muslimah Nyanyikan Lagu Baru Erros Djarot
    Ada Musikal Detik di Konser 40 Tahun Erros Djarot
    Alexa Sukses Bawakan Tiga Lagu Eros Djarot
    Luanada Duet dengan Keith Martin  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.