Ada Musikal Detik di Konser 40 Tahun Erros Djarot  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Drama musikal menceritakan pembredelan media pada zaman Orde Baru, dengan lagu Bla Bla Bla yang dibawakan Kikan, dalam Konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya di Jakarta (14/2). TEMPO/Nurdiansah

    Drama musikal menceritakan pembredelan media pada zaman Orde Baru, dengan lagu Bla Bla Bla yang dibawakan Kikan, dalam Konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya di Jakarta (14/2). TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta -Konser 40 Tahun Erros Djarot seolah ingin merekam babak-babak kehidupan seniman, budayawan, politikus, dan wartawan ini. Seluruh babak kehidupan Erros, mulai dari awal karirnya sebagai musisi, sutradara dan redaktur Tabloid Detikyang dibredel pada 1993 dirangkum dalam konser ini.

    Segmen Musikal Detik misalnya, menampilkan lagu-lagu Erros yang tidak pernah dipublikasikan dalam album bertajuk sama, usai Tabloid Detik dibredel. "Erros terus menyuarakan kegelisahannya kala itu melalui lagu ciptaannya," kata Andi Noya melalui tayangan video di panggung konser, Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jumat, 14 Februari 2014.

    Kikan Namara dan Dendy Adams tampil sebagai tokoh utama musikal pendek itu. Bersama aktor-aktor dan penari Musikal Laskar Pelangi, keduanya tampil nge-rock membawakan lagu Aku Wartawan Muda Indonesia, Berputar, Pemilu Ble Ble, dan Jangan Menangis Indonesia.

    Musikal Detik menceritakan soal perlawanan anak muda terhadap rezim politik yang berkuasa. Politikus itu disebut hanya mengobral janji kosong. Perlawanan itu berakhir ketika Dendy--sebagai simbol perlawanan, harus dipenjara usai bentrok dengan aparat.

    Naskah cerita yang disusun oleh Mira Lesmana itu seakan menyitir situasi di masa Orde Baru. Sedangkan tata musik, kembali diisi oleh Erwin Gutawa yang sebelumnya sukses lewat Musikal Laskar Pelangi.

    SUBKHAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.