JAFF 2013 Putar Film Romi dan Yuli dari Cikeusik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Romi & Yuli dari Cikeusik. Jaff-filmfest.org

    Romi & Yuli dari Cikeusik. Jaff-filmfest.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Gerakan sosial menjadi tema utama dalam Jogja-Netpac Festival Film Asia (JAFF). Salah satu film yang  akan diputar adalah film tentang diskriminasi terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, Banten.

    JAFF 2013 ini bertema "Altering Asia atau Membarui Asia", dihelat sejak 29 November-7 Desember mendatang. Festival ini akan menampilkan 90 film yang terdiri dari 37 film panjang dan 43 film pendek, serta 13 film panjang dan 12 film pendek yang dikompetisikan. Festival ini bisa disaksikan di Empire XXI, Taman Budaya Yogyakarta, Lembaga Indonesia-Perancis, dan beberapa kampung di Yogyakarta.

    JAFF bekerja sama dengan Yayasan Denny J.A. Yayasan ini menginisiasi gerakan Indonesia tanpa diskriminasi. Denny J.A. menggunakan film sebagai medium yang mengandung pesan sosial. Pada 2008, JAFF pernah menggelar program ini. "Kami konsisten menjalankan program ini," kata Ajish, Senin, 2 November 2013.

    Dia juga mencontohkan ada beberapa film yang temanya sangat aktual terkait beberapa kasus di Indonesia, seperti film Sapu Tangan Fang Yin karya Karin Binanto--film tentang diskriminasi dan rasial dalam kerusuhan 1998--dan Romi dan Yuli dari Cikeusik karya Indra Kobutz dan Hanung Bramantyo.

    Dari ajang festival ini, mereka berharap bisa memberikan kesadaran baru kepada masyarakat melalui film, terutama ketika menghadapi beberapa masalah dalam masyarakat. Sebab, film menjadi medium penyampai pesan yang dinilai cukup efektif.

    Selain memutar beberapa film gerakan sosial, JAFF juga menggelar seminar bertajuk "Film for Social Movement" di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta, 7 Desember 2013. Program ini merupakan program pembelajaran publik untuk mengajak masyarakat mengapresiasi sinema Asia.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Raoul Follereau Mengusung Kepedulian Terhadap Penderita Kusta

    Raoul Follereau mengusulkan kepedulian terhadap kusta. Perjuangannya itu akhirnya diakui pada 25 Januari 1954 dan ditetapkan sebagai Hari Kusta.