Kain Batik jadi Busana Utama Film Bertema Sejarah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tokoh Nahdathul Ulama Solahuddin Wahid (kiri) bersama pendukung film Sang Kyai, Ikranegara (kedua kiri), Christine Hakim dan Agus Kuncoro menghadiri penayangan film Sang Kyai di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta (21/5). ANTARA/Teresia May

    Tokoh Nahdathul Ulama Solahuddin Wahid (kiri) bersama pendukung film Sang Kyai, Ikranegara (kedua kiri), Christine Hakim dan Agus Kuncoro menghadiri penayangan film Sang Kyai di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta (21/5). ANTARA/Teresia May

    TEMPO.CO, Jakarta - Menyaksikan film-film bertema sejarah dan pahlawan yang tayang di layar lebar, tak hanya menarik dari segi cerita dan gambar. Faktor lain yang menarik dan memegang peranan penting adalah tat arias dan busan. Pada tata rias adalah cara mendadandani pemain dalam memerankan tokoh di film lebih meyakinkan dan sesuai dengan karakter dan peran di dalam film. Adapun tata busana merupakan pengaturan pakaian kepada para aris atau pemain agar mendukung keadaan sesuai dengan jalan cerita.

    Dalam film bertema sejarah seperti Habibie Ainun, Di Bawah Lindungan Kabah, Sang Pencerah, Sang Kyai, Soekarno, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan sebagainya, dalam setiap adegan di film-film ini menempatkan kain batik menjadi busana utama.  Lihat saja di film Sang Pencerah, Zaskia Adya Mecca yang memerankan tokoh Nyai Ahmad Dahlan tampak mengenakan busana jarik atau kain batik dengan kebaya dan kerudung. Jaman itu meskipun Islam mendominasi, belum ada jilbab yang dipakai para wanita di saat itu. Hanya kerudung lengkap dengan kebaya bunga atau bercorak dibalut kain batik.

    Film Sang Pencerah menjadikan sejarah sebagai pelajaran pada masa kini tentang toleransi, koeksistensi (bekerjasama dengan yang berbeda keyakinan), kekerasan berbalut agama, dan semangat perubahan yang kurang. Film ini mengungkapkan sosok pahlawan nasional itu dari sisi yang tidak banyak diketahui publik. Selain mendirikan organisasi Islam Muhammadiyah, lelaki tegas pendirian itu juga dimunculkan sebagai pembaharu Islam di Indonesia dan memperkenalkan wajah Islam yang modern, terbuka, serta rasional.

    Hal yang yang sama juga tampak pada film Sang Kiai. Film yang dibintangi Ikranegara sebagai KH Hasyim Asy'ari dibuka pada tahun 1942 saat pimpinan pesantren Tebu Ireng itu ditangkap oleh komandan Kempitei. Penangkapan itu karena ia menolak melakukan Sekerei (upacara menghormati matahari). Film ini juga menghadirkan Christine Hakim sebagai Nyai Kapu, istri KH Hasyim Asy'ari yang dalam penampilannya juga berjarik alias kain batik, kebaya katun dan kselendang untuk kerudung.

    Pada film  film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang ber-setting zaman lawas sekitar era 1930-an dan menceritakan kisah cinta Zainuddin yang terbalut masalah diskriminasi orang Minang terhadap keturunan campuran di masa itu. Film yang mash dalam masa sebelum kemerdekaan sarat juga dengan menampilkan bentangan jarik atau kain batik yang dikenakan para wanita termasuk busana yang dikenakan Hayati yang diperankan oleh Pevita Pearce yang kisah cintanya terpisah dengan pria Bugis bernama Zainuddin diperankan Herjunot, Ali.

    Film Di Bawah Lindungan Ka'bah yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1938. Balai Pustaka secara umum menolak karya bertema agama karena melakukan resistensi terhadap praktik penindasan kolonial Belanda di Indonesia. Novel sejarah ini  bisa lulus sensor dari Balai Pustaka karena hanya dianggap melukiskan tentang Islam semata. Dalam film karya Hamka ini, lagi-lagi Laudya Cynthia Bella sebagai Zainab mengenakan jarik atau kain batik dalam setiap penampilannya.

    Untuk film Habibie & Ainun juga film Soekarno, pesona jarik dan batik tampak dikenakan oleh Bunga Citra Lestari yang memerankan sosok Besari Ainun  atau biasa disapa Hasri Ainun ketika adegan pelantikan Habibie sebagai Presiden RI ketiga. "Kain batik itu indentitas Indonesia, dalam film sejarah akan selalu ada dan dikenakan sebab ini busana kita," kata Bunga dalam acara nonton bareng film ini beberapa waktu lalu.

    Adapun Tika Bravani yang memerankan sosok Fatmawati di film Soekarno dan Maudy Koesnaedi sebagai Ibu Inggit juga tampak berjarik batik. Ke dua ibu negara ini tampak anggun dan menjadi pesona tersendiri perempuan Indonesia dengan berjarik batik.

    HADRIANI P/ Berbagai Sumber
    Berita Terpopuler
    Drama Surabaya Membara Kembali Dipentaskan
    Nyaris Bangkrut, Eros Bikin Film Tjoet Nya' Dhien 
    Film Soekarno di Ende Segera Digarap
    Widyawati:Makna Hari Pahlawan, Mencintai Tanah Air 
    Jadi Soekarno, Baim Wong Harus Bersuara Berat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.