Pameran Akbar dari Seniman Muda Bandung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • "Malam di Fountain of The Queen IV", "Malam di Fountain of The Queen III" dan "Rekaman Peristiwa Alam Besar Sepanjang Abad (Tsunami 26 Desember 2004)", karya Said Akram pada Pameran Tunggal Said Akram, Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (9/12). TEMPO/A

    TEMPO.CO, Bandung - Sebanyak 35 seniman muda di Bandung unjuk gigi. Mereka menggelar pameran besar bertajuk Bandung Contemporary: Disposition di delapan galeri di Bandung mulai 22 Oktober hingga November 2013.

    Acara Bandung Contemporary terbagi menjadi pameran bersama dan tunggal. Pameran bersama diadakan di galeri Lawangwangi dan Selasar Sunaryo Art Space dengan melibatkan 29 seniman muda, di antaranya Agung, Michael Binuko, Muhamad Zico Albaiquni, Theo Frids Hutabarat, dan Windi Apriani. Kedua pameran bersama itu dikuratori Chabib Duta Hapsoro dan Sally Texania.

    Adapun pameran tunggal menampilkan karya-karya Ardiansyah Arif Fadila di Galeri Gerilya, Bonggal Jordan Hutagalung di Galeri Hidayat, serta Opikobra di auditorium pusat kebudayan Perancis (IFI) Bandung. Selain itu, Nurrachmat Widyasena menggelar pameran karyanya di Kamones Workshop 7 Gallery, Mirfak Prabowo di Platform 3, dan Antonio S. Sinaga di Rumah Seni Sarasvati. Pembukaan pameran tunggal itu bertahap dari 23-29 Oktober hingga 12, 17, dan 30 November 2013.

    Salah seorang penggagas acara, Maharani Mancanegara mengatakan, pameran besar itu untuk menunjukkan geliat seniman muda di Bandung di tengah sepinya pasar karya seni rupa. "Kita sedang coba market yang baru dengan mengundang kolektor-kolektor muda juga," ujarnya kepada Tempo, Sabtu, 19 Oktober 2013.

    Pameran ini juga semacam penyemangat bagi lulusan seni rupa baru dari kampus ITB dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, serta seniman yang sedang merintis dalam 3 tahun ini.

    Salah seorang kurator pameran Chabib Duta Hapsoro mengatakan, ia mengemas konsep pameran dengan diskusi antar-seniman muda. Nantinya, tiap artis akan diminta menulis deskripsi dan pemahaman tentang karya rekannya. "Metode itu untuk menjawab stereotip yang mengatakan seniman muda di Bandung sudah sangat jarang berdiskusi soal karya seniman lain," ujarnya.

    ANWAR SISWADI

    Berita Lain
    Polisi dan Tentara Bentrok di Karaoke Depok
    Traffic YouTube dari Perangkat Bergerak Naik
    Brimob Koboi Pukuli Warga di Bandung
    Cedera, Persie Diragukan Main Lawan Southampton


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.