Ustad Solmed, Penasehat Klub Harley Davidson  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ustad Solmed. Tempo/Fardi Bestari

    Ustad Solmed. Tempo/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Ustad Solmed menjadi penasihat untuk klub motor Bikers Brotherhood MC (BBMC) Indonesia Jawa Barat, yang pada 21 Juli 2013 lalu menyumbang ruang belajar di pesantren milik H. Endang Suhendar di Cikampek, Karawang.

    Sarjana lulusan Universitas Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta ini, juga menjadi penasehat di klub motor gede Harley Davidson. “Mereka aktif dalam kegiatan sosial yang belum lama ini menyumbang dana sampai ratusan juta,” dia menjelaskan.

    Aktif menjadi penasehat, bukan berarti ayah satu anak itu suka naik motor. “Saya kurang mahir naik motor. Waktu itu hanya ikut kegiatan bersama almarhum Ustad Jeffry,” kata Solmed, yang diajak menjadi teman duet ceramah Uje di salah satu televisi swasta.

    Menurut Solmed, apa yang dilakukan pada tanggal 26 Juli bersama komunitas Dream Club Indonesia (DCI) menjadi kebaikan untuk gerakan melakukan amal. Karena anggota DCI memiliki potensi besar dari harta untuk membantu yang lemah dan tidak mampu, maka dia mengajak mereka membantu kaum yang lemah ekonominya. “Saya menjadi perantara saja sudah cukup, itu kebaikan dari para anggota DCI,” katanya.

    Soal disebut pamer atau riya, menurut Solmed, istilah riya disesuaikan dengan porsinya. “Turun dari angkot bisa riya, naik ojek saja bisa riya. Riya ada di hati, tidak ada yang tahu itu riya atau tidak,” jelasnya. Semua tergantung situasi.

    Yang jelas,” Allah membolehkan sedekah secara terang-terangan,” kata dia sambil menyebutkan surat Al-Baqarah ayat 274, Arra'd:22, Ibrohim:33, An-Nahl:75, dan Fathir:29. Kalaupun ada yang protes, ada orang berbuat baik secara terang-terangan, Solmed mengaku heran. “Allah saja membolehkan, kok, ada makhluk yang melarang,” ujarnya.

    Ia berpesan, bila masih ragu berbuat baik secara terang-terangan atau diam-diam, itu tergantung keikhlasan hati. Soal penampilannya tersebut muncul di televisi dan diliput media, ditanggapi Solmed sebagai bentuk syiar. “Supaya orang lain bisa ikutan membuat gerakan kebaikan dan memotivasi orang lain.”

    Jika masih saja ada komentar sinis atau miring, ia menganggap bahwa mereka itu tidak paham dan membenci kebaikan. “Riya itu adanya di hati, alih-alih menuduh orang riya, tidak tahunya hati kita sedang kena penyakit ,” katanya.

    EVIETA FADJAR


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.