Putri Indonesia 2013 Beri Penyuluhan Narkoba

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puteri Indonesia 2012-2013, Whulandary Herman. TEMPO/Seto Wardhana

    Puteri Indonesia 2012-2013, Whulandary Herman. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Depok - Puteri Indonesia 2013, Whulandary Herman melakukan kampanye anti Narkoba di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Depok, Jumat, 12 Juli 2013. Bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Mustika Ratu & Yayasan Putri Indonesia, Whulandary memberikan penyuluhan kepada 400 peserta dalam kegiatan orientasi siswa di sekolah tersebut.

    "Enggak usah takut dicap enggak gaul. Saya sejak dulu enggak pernah merokok atau pakai narkoba, tapi bisa tetap gaul kok," kata Whulandary kepada siswa kelas VII SMPN 3 Depok.

    Di hadapan pada remaja yang rata-rata berumur 14 tahun itu, Whulandary memberikan penjelasan kenapa narkoba harus dijauhi. Anggapan bahwa narkoba bisa membantu dalam pergaulan, kata Whulandary, justru memberikan pengaruh yang negatif bagi kesehatan dan masa depan mereka. "Narkoba itu malah merugikan kita," katanya.

    Sementara itu, manager public relations Mustika Ratu & Yayasan Putri Indonesia, Mega Angkasa mengatakan, Whulandary sebagai ikon nasional diharapkan bisa memotivasi pelajar untuk menjauhi narkoba. "Banyak orang hebat yang sudah keluar masuk penjara akibat narkoba," katanya.

    Mega mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial dari mereka untuk mendukung upaya pemberantasan narkoba di Indonesia. "Ini harus diterapkan oleh semua perusahaan yang ada di Indonesia, serta terus melibatkan generasi muda," kata dia.

    ILHAM TIRTA

    Berita Lain:
    Wawancara Tempo dengan Ucok Eksekutor Cebongan

    Ini Pengakuan Penulis Buku SD 'Porno' Anak Gembala 

    Alex Noerdin Batal Jadi Gubernur Sumatera Selatan

    Sefti Ingin Jenguk Fathanah di Bilik Asmara  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.