3 Cerita Rakyat Festival Nasional Teater Remaja

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pertunjukan teater

    Pertunjukan teater "Bila Malam Bertambah Malam" yang dipentaskan oleh kelompok Teater Mandiri dalam gladi resiknya di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (20/6). TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO.CO , Bandung:BANDUNG-Cerita rakyat banyak dipilih sebagai lakon teater di ajang Festival Nasional Teater Remaja di Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, 3-6 Juli 2013. Kisah lokal itu dinilai cocok menjadi tontonan generasi muda dengan berbagai pesan moral, semangat hidup, kejujuran, dan keagamaan.

    Teater Pusat Olah Seni Jayapura dari Papua, mengangkat lakon berjudul Yaume. Karya Viany Sublyat itu menceritakan Yaume, gadis yang hidupnya sesat. Untuk memperdalam ilmu hitam, Yaume berani menghisap darah dan memakan daging orang. Kemunculannya yang selalu tak terduga membuat masyarakat resah. Atas perintah kepala desa, Satemtou, warga memburu Yaume untuk dibunuh. “Kisah nyata sekitar 30 tahun lalu ini masih hidup sampai sekarang,” kata Viany kepada Tempo, Sabtu, 6 Juli 2013.

    Cerita rakyat Laposin dari Nusa Tenggara Timur menjadi pilihan Teater Akar. Laposin merupakan seorang bocah dari keluarga kaya yang sangat dimanja orang tuanya. Ketika ayahnya meninggal, ia baru belajar hidup. Meski lugu, ia tetap jujur. Saat dinyatakan Raja tidak bersalah karena telah mendorong putri Raja, Laposin bersikeras minta dihukum. “Cerita itu berasal dari leluhur, tentang orang tua yang salah mendidik anaknya,” kata pembina Teater Akar, Andri Pellendou.

    Teater Grisbon dari Gowa, Sulawesi Selatan, memainkan lakon Passompe, yaitu masyarakat pelaut Bugis-Makassar yang hebat. Mereka berani berlayar sampai Cina, Australia, hingga Afrika. Pembina sekaligus penulis naskah Bahar Merdu mengolahnya menjadi cerita yang ringan, khas anak-anak, dan penuh humor. Para pemainnya semua masih pelajar SMP. “Kami datang untuk menghibur penonton dan dewan juri,” kata Bahar.

    Seorang juri, Koes Yuliadi mengatakan, teater daerah punya kekuatan mengolah cerita lokal. Dialek, logat, dan budaya daerah juga menjadi daya tarik teaternya. “Tak harus jadi teater seperti di Jakarta atau ingin jadi teater Indonesia, budaya lokal sudah sangat kaya untuk diolah,” katanya.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?