Sensasi Jazz pada Suhu Delapan Derajat Dieng

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pertunjukkan Jazz Atas Awan di Kompleks Candi Arjuna Dieng, Banjarnegara, di ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut dengan suhu 7 derajat celcius (30/6). TEMPO/Aris Andrianto

    Pertunjukkan Jazz Atas Awan di Kompleks Candi Arjuna Dieng, Banjarnegara, di ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut dengan suhu 7 derajat celcius (30/6). TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Dieng - Lagu galau dengan judul “Jurang Kerinduan” tak membuat penonton di pelataran Kompleks Candi Arjuna beringsut. Justru, grup band asal Yogyakarta, Gelas Kaca, mampu membuat penonton pertunjukkan Jazz Atas Awan berjoget mengikuti irama. “Biasanya kalau sedang kedinginan saya reflek misuh-misuh, tapi kemarin harus ditahan demi kesopanan,” kata Mutia Rizki, vokalis Gelas Kaca, kepada Tempo, Selasa 2 Juli 2013.

    Mutia awalnya mengaku cukup kesulitan menyanyikan lagu jazz pada suhu delapan derajat celcius. Giginya bergemeretak  “trembling” menahan suhu dingin. Tenggorokan cepat kering. Namun, vokalis yang suaranya mirip Andien itu, sukses menstabilkan suaranya.

    Bagi dara manis ini, hanya ada satu kata, keren. Menurut dia, konsep panggung yang menyatukan penonton dengan performer membuat suasana dingin Dieng jadi terasa hangat.”Apalagi ketika penonton menyambut kami dengan antusias, it feels so great, love that moment more than anything,” ujarnya. Ia berharap, pada gelaran tahun depan, panitia lebih banyak menyediakan anglo agar suasana semakin hangat.

    Jazz Atas Awan merupakan ikhtiar masyarakat pariwisata Dieng untuk mengenalkan musik jazz bagi kaum sarungan, kaum akar rumput. Selama ini jazz dinilai hanya untuk kalangan berduit dan kelas atas. Jazz Atas Awan sendiri merupakan acara penutup rangkaian Dieng Culture Festival yang diselenggarakan 29-30 Juni 2013. "Dinamai Jazz Atas Awan, karena Dieng adalah kawasan pemukiman di ketinggian sekitar 2.350 mdpl. Ini negeri atas awan,” kata Budhi Hermanto, penggagas gelaran jazz atas awan.

    Dengan latar panggung Candi Arjuna yang disorot lampu warna-warni, jazz atas awan menemukan sisi romantisnya. Penonton yang sebagian besar warga Dieng pun terlihat menikmati betul sajian yang baru pertama kali mereka lihat itu. “Biasanya kami melihat lengger atau kuda lumping, baru kali ini saya melihat music jazz,” kata Kabul Suwoto, warga Dieng Kulon yang mengajak anak istrinya.

    Sayangnya, kata dia, venue pertunjukan jazz dengan candi sebagai altarnya sangat terbatas, sehingga penonton yang datang belakangan, terpaksa menonton dari belakang pertunjukan. Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, yang malam itu sengaja hadir untuk melihat pertunjukan jazz atas awan mengatakan, gelaran jazz atas awan ini menarik karena mendekatkan musik jazz pada rakyat, jazz bukan hanya domain bagi kelompok menengah. "Dalam jazz atas awan ini, musik jazz juga bisa dinikmati oleh masyarakat biasa. Jazz adalah musik rakyat. Bahkan bunyi tetesan hujan, halilintar, gemercik air di sungaai disekitar kita adalah juga jazz,” katanya.

    Ada 10 penampil dalam gelaran jazz atas awan. Mereka adalah Teleskeblues (Banjarnegara), Dawai The Ecthnicity (Bandung), Pandawa (Banjarnegara), Gelas Kaca (Yogyakarta), Nalaswara (Purwokerto), JFU Band (Semarang), SNF Band (Salatiga), Harmony (Purwokerto), Absurd Nation (Semarang), dan penampil special sebagai penutup gelaran adalah Band Jazz yang dimainkan oleh anak-anak SMAN 1 Banjarnegara.

    Gelaran jazz atas awan dibuka oleh band pembuka asal Banjarnegara, Teleskeblues yang tampil dengan baik, dilanjutkan penampilan kelompok musik Dawai The Ecthnicity dari Bandung yang memainkan musik perpaduan gitar, bass, dan karinding (alat musik tradisional Sunda). Penampilan Dawai yang menyuguhkan musik instrumentalia ini sangat menghipnotis para penonton malam itu.

    Penampilan band asal Dieng, Banjarnegara (Pandawa) tak kalah menarik. Dalam salah satu perfomance, Pandawa mengiringi Hadi Supeno melantunkan lagu "Juwita Malam".

    Alunan musik yang sangat "jazzy" dipertunjukan oleh Nalaswara, JFU Band, Sekawan & Friends, dan Absurd Nation. Penampilan mereka sangat menghibur dan mendekatkan musik jazz yang biasanya dinikmati oleh kelompok menengah, menjadi musik yang bisa juga dinikmati oleh orang-orang yang berkerudung sarung, di Dataran Tinggi Dieng.

    Semakin malam, penonton yang menyengaja untuk melihat pertunjukan jazz atas awan, semakin interaktif dengan pemusik yang tampil. Venue jazz yang direrumputan tanpa panggung, jarak penonton dengan pemusik hanya sejengkal.

    Gelaran jazz atas awan ditutup oleh penampilan gorup band pelajar SMUN 1 Banjarnegara yang menyuguhkan lagu pop dengan irama jazz . Mereka mengaransmen lagu "Kita" (Sheila on Seven), "Cintaku" (Crisye) dan "Rumah kita" (God Bless) dalam balutan jazz yang menarik. Penonton bahkan akhirnya berdiri dan ikut bernyanyi bersama, sambil kedinginan tentunya.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.