Slank Hibur Slankers Kelas Menengah di Hotel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Group musik Slank saat konferensi pers jelang konser I Slank U di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, (7/5). Konser I Slank U akan dilaksanakan pada 11 Mei 2012 di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place. TEMPO/ Agung Pambudhy

    Group musik Slank saat konferensi pers jelang konser I Slank U di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, (7/5). Konser I Slank U akan dilaksanakan pada 11 Mei 2012 di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place. TEMPO/ Agung Pambudhy

    TEMPO.CO, Solo - Kelompok musik Slank menghibur para fans di Solo dalam sebuah konser bertajuk LA Light Music Project, Selasa malam 2 Juli 2013. Tidak seperti biasanya konser Slank yang digelar di tanah lapang, malam itu Slank menggelar konsernya di Sumaryo Ballroom The Sunan Hotel.

    Di tengah Slankers yang berasal dari kalangan menengah ke atas, personel Slank juga tampil berbeda. Sang Vokalis, Kaka mengenakan pakaian berupa kemeja berdasi yang dibalut dengan jas warna hitam. Dengan balutan pakaian formal tersebut mereka langsung menghibur penonton dengan lagu Kuil Cinta.

    Nyaris tanpa jeda, Slank langsung menggeber pertunjukannya dengan lagu Bang Bang Tut yang berirama cepat. Penonton yang berada di kelas platinum dan VIP menikmati lagu-lagu tersebut di atas kursinya. Sedangkan penonton kelas festival yang berada di bagian belakang menikmati dengan lebih atraktif lantaran tanpa kursi.

    Dalam konser tersebut, Slank juga berkolaborasi dengan dua penyanyi wanita, Dira Sugandi dan Raisa. Tata suara konser dalam gedung yang digunakan juga memungkinkan bagi mereka untuk menyajikan lagu dengan warna akustik yang cukup kental. Salah satunya cukup terasa dalam lagu Terlalu Manis. Di bagian akhir konser, Kaka tetap saja melantunkan lagu sembari bertelanjang dada.

    Konser dalam gedung itu juga memungkinkan bagi mereka untuk bermain multimedia dalam artistik latar belakangnya. Dalam lagu Lembah Baliem, misalnya, mereka menampilkan gambar bergerak kehidupan masyarakat di suku yang berada di Papua tersebut.

    Menurut penggebuk drum, Bimbim, konser tersebut memang ditujukan untuk para Slankers kelas menengah yang selama ini kurang nyaman untuk menonton konser di lapangan. "Kami menyebutnya sebagai Slankers Wangi," kata Bimbim sebelum pentas. Bahkan, musisi bernama asli Bimo Setyawan itu bahkan memperkirakan banyak diantara para penonton yang sama sekali belum pernah menonton konser Slank.

    Sedangkan Raisa mengaku bahwa dia sebelumnya telah dua kali berkolaborasi dengan Slank dalam tur yang sama. Kolaborasi tersebut dilakukan di Pontianak dan Palangkaraya. "Jadi untuk konser di Solo bisa lebih rileks," kata penyanyi cantik tersebut.

    Meski ditujukan untuk fans kelas menengah, puluhan Slankers ternyata tetap mendatangi The Sunan Hotel. Tentunya, mereka tidak membeli tiket yang harga termurahnya mencapai Rp 150 ribu tersebut. Mereka harus puas menikmati suara konser melalui perangkat speaker yang dipasang di depan hotel.

    AHMAD RAFIQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.