'Gedang Goreng Soklat' Jawara Festival Film Dieng  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wisatawan mengunjungi salah satu tempat wisata di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, (2/6). Tempat wisata ini kembali dibuka usai ditutup karena status gunung Dieng dalam Siaga 3 karena aktivitas gas meningkat. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Sejumlah wisatawan mengunjungi salah satu tempat wisata di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, (2/6). Tempat wisata ini kembali dibuka usai ditutup karena status gunung Dieng dalam Siaga 3 karena aktivitas gas meningkat. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, DIENG - Film pendek pelajar dari Purbalingga berjudul Gedang Goreng Soklat (Pisang Goreng Coklat) produksi Kafiana Production SMK YPLP Perwira Purbalingga diganjar sebagai film fiksi terbaik di ajang Festival Film Dieng (FFDI) 2013. Penganugerahan digelar pada Ahad, 30 Juni 2013, di Museum Kailasa komplek pegunungan Dieng Banjarnegara.

    Festival film pelajar tingkat nasional yang merupakan bagian dari Dieng Culture Festival IV tahun 2013 ini digelar selama dua hari 29-30 Juni 2013. Sejumlah 76 film kategori fiksi dan dokumenter dari berbagai sekolah di Indonesia bersaing pada ajang festival yang baru pertama digelar itu.

    "Kejutan, sungguh tidak manyangka. Bagi kami, berhasil masuk sebagai nominator saja sudah senang. Ya lewat kemenangan ini sebagai bentuk pembuktian kiprah pelajar Purbalingga dalam bidang film," kata sutradara film Gedung Goreng Soklat, Octa Berna Ratungga.

    Film "Gedang Goreng Soklat" berkisah tentang seorang anak penyandang difabel yaitu tunawicara yang berusaha keras membantu orang tuanya dengan cara berkomunikasi lewat gambar-gambarnya. Sampai pada suatu ketika, sebuah peristiwa lucu namun mengharukan menimpa si anak itu.

    Menurut salah satu dewan juri, Subagjo Budisantoso, film "Gedang Goreng Soklat" itu mengangkat ide yang sederhana. Tetapi dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini memuji film tersebut karena mampu mengemasnya ke dalam tema yang tidak biasa, "Kehidupan seorang anak penyandang difabel dengan segenap semangatnya."

    Dikategori fiksi, film terbaik II diraih film "Titip Doa" dari SMA Negeri 1 Banjarnegara, film terbaik III "Memulung Ilmu" dari SMA PGRI 2 Kayen. Sementara di kategori dokumenter, film terbaik diraih "Kong Asong" dari SMK Negeri 3 Batu, terbaik II "Daun Cahaya Kehidupan" dari SMK TI Pelita Nusantara Kediri, dan terbaik III "Ngelawang" dari SMA Negeri 3 Denpasar.

    Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, yang berkesempatan menyerahkan hadiah kepada pemenang film fiksi terbaik berupa tropi, piagam, dan uang pembinaan mempunyai harapan besar pada pelajar yang sudah berkarya di bidang film itu.

    "Membanggakan. Para pelajar ini sudah mampu menyandingkan dengan karya-karya film mainstream di Tanah Air," kata Hadi.

    Koordinator Festival Film Dieng, Budi Hermanto mengatakan, festival ini rencananya akan diselenggarakan tiap tahun. "Ini tahun pertama dan pesertanya cukup banyak, tahun depan akan kami selenggarakan lagi," ujar Budi. 

    ARIS ANDRIANTO

    Topik Terhangat
    Tarif Progresif KRL
    | Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | PKS Didepak? | Puncak HUT Jakarta

    Berita terpopuler:
    23 Persen Pengguna Android Pindah ke Windows Phone 

    iPhone 5S Diprediksi Akan Dirilis pada 20 September

    Ada Senyawa Nikotin di Rambut Mumi Cile

    Facebook Tarik Iklan dari Halaman Kekerasan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.