Street Art Magelang Butuh Tempat Berkarya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mural

    Mural "Anti Korupsi". ANTARA/Ismar Patrizki

    TEMPO.CO, Magelang-Sekelompok remaja yang tergabung dalam komunitas Street Art Kota Magelang, minta dibuatkan media untuk berekspresi di ruang publik.

    Salah satu anggota, Raka Adhityatama, mengatakan komunitasnya sering harus sembunyi-sembunyi ketika berkarya. Mereka menggunakan tembok di jalan untuk menuangkan ide. “Kami seringkali dikejar-kejar Satpol PP. Ini memang tidak benar, namun kami harus bagaimana,” kata dia, Kamis 27 Juni 2013.

    Komunitas street art, sering disebut kelompok vandalisme. Padahal, mereka berkarya untuk menyatakan keprihatinan akan situasi nasional saat ini. Raka mengatakan, mereka banyak mengangkat isu HAM, BBM, kesetaraan gender, dan lainnya.

    Hingga saat ini, kata Raka, kelompoknya belum menemukan area yang pas untuk berkarya. Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian kepada komunitasnya. Terlebih, jumlah anggota komunitasnya semakin banyak. Kini, mencapai puluhan, termuda berusia 19 tahun.

    Untuk membuktikan karya kepada masyarakat, empat orang dari kelompok ini mengadakan pameran, bertajuk “Dopamime Attack Art Exhibition”, di Rumahku Art Cafe, 29 Juni hingga 13 juli mendatang. Tema itu, menunjukkan bahwa anak muda bisa memberi motivasi kepada orang lain.

    Salah satu peserta, Isnain Bahar Sasmoyo, mengatakan pameran itu sebagai salah satu cara, untuk membuktikan bahwa mereka bukanlah kelompok vandalisme. “Kami bisa menampilkan karya yang positif, namun tidak bisa dinikmati masyarakat,” katanya.

    Dalam pameran itu, mereka menampilkan 40 karya, bercerita tentang anak muda yang memiliki gairah berkreativitas. Selain tembok, media yang digunakan, kanvas serta triplek.

    Di Magelang, street art muncul sejak 2000-an. Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian atas pengembangan street art di Kota Magelang. Satu di antaranya, dengan menyediakan ruang khusus untuk berkreasi. “Street art menjadi cara kami berkarya. Ketimbang kami nakal, seni ini cukup efektif untuk mengungkapkan kesenangan kami,” katanya. OLIVIA LEWI PRAMESTI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Fakta Kasus Suap Pajak, KPK Bidik Pejabat Dirjen Pajak dan Konsultan

    KPK menetapkan pejabat Direktorat Jenderal atau Dirjen Pajak Kementerian Keuangan sebagai tersangka dalam kasus suap pajak. Konsultan juga dibidik.