Mengenang Iwan Tirta Lewat Tarian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Iwan Tirta. TEMPO/ Aditia Noviansyah

    Iwan Tirta. TEMPO/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta-Pada  4 Juli mendatang sebuah opera klasik Jawa akan digelar di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Opera klasik ini yang berjudul Knights of the Golden Empress,  mengangkatkan kisah zaman Majapahit dari naskah kuno Serat Dharmawulan.

    Ada dua seniman yang terlibat dalam pagelaran yang diproduseri Bram dan Kumoratih Kushardijanto ini: Rahayu Supanggah dan Elly D Luthan. Iwan Tirta memang bukan penari atau koreografer, tapi sumbangsihnya dalam seni panggung klasik Jawa ini tak bisa diragukan.

    Sejak 1960-an dia mengunjungi keraton-keraton di Solo dan Yogyakarta untuk merekonstruksi busana penari klasik, terutama bedhaya atau srimpi. Dari foto-foto hitam putih dia membuat lagi batik-batik yang para penari masa lalu pakai. Ia juga membuat lagi aksesoris para penari dari emas 24 karat.

    Pada 2003 merupakan awal program retrospeksi Iwan Tirta yang dilakukan oleh Gelar—lembaga yang dipimpin oleh Bram dan Kumoratih. Dilaksanakan di Pakubuwono Residence, program ini diadakan dengan memamerkan batik kuno dan klasik koleksi Iwan.

    Dalam kesempata itu ditampilkan rekonstruksi busana tari Budhaya Pangkur ciptaan Sri Susuhan Pakubuwono X. Tiga tahun kemudian, digelar Tandhing Gending (A Battle of Wits), opera klasik Jawa di Hotel Dharmawangsa. Pagelaran ini kemudian dipentaskan juga di sejumlah kota. Knights of the Golden Empress adalah kelanjutan dari dua pertunjukan tersebut.

    QARIS TAJUDIN 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.