Penonton Alay Bisa Beri Dampak Buruk pada Remaja

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak alay ketika ditemui oleh tempo di studio RCTI, Kebon jeruk, Jakarta (30/05). TEMPO/DIAN TRIYULI HANDOKO

    Sejumlah anak alay ketika ditemui oleh tempo di studio RCTI, Kebon jeruk, Jakarta (30/05). TEMPO/DIAN TRIYULI HANDOKO

    TEMPO.CO, Jakarta -Sebagai pengamat media, Nina Mutmainah Armando sering melihat anak-anak remaja alay aneh-aneh, bahkan terkesan berlebihan. Menurut Nina, budaya fan sedang menjamur yaitu mengidolakan selebritas lewat atraksi yang muncul.

    "Intinya yang ditampilkan dan ditonton dijadikan model rujukan. Karena mereka harus sorak-sorak, joget, harus heboh apalagi ketika mengenakan baju sponsor," kata Nina, Selasa 28 Mei 2013.

    Dosen Komunikasi Fisip UI itu mengakui acara model begitu tidak ada manfaatnya, apalagi untuk dijadikan panutan. "Seingat saya enggak ada edukasinya, cuma becanda-becanda. Penontonnya memang kebanyakan remaja, orang tuanya yang sedikit" ujarnya.

    Gaya dari orang yang ditonton tersebut bisa memberikan pengaruh jika remaja yang tidak kritis atau tidak mengetahui kalau yang dilakukan remaja alay itu adalah bayaran. “Penonton enggak tahu kalau mereka melakukan itu dibayar. Potensi dampak bagi remaja yang tidak kritis,” kata Nina.

    Sehingga penonton di rumah mengadaptasinya karena merasa lazim. Makin ekstrem remaja alay itu bergaya, dilihatnya semakin bagus dan bikin orang tertawa. “Katanya mau tetap eksis harus narsis dulu," kata Nina.

    Bersenang-senang seperti itu, kata Nina, dijadikan contoh model apalagi dijadikan kegiatan yang rutin sehingga masyarakat melihatnya baik-baik saja.

    ALIA FATHIYAH





     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.