Tinggalkan Kantor Demi Jadi Penonton Bayaran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Anak Alay. TEMPO/DIAN TRIYULI HANDOKO

    Ilustrasi Anak Alay. TEMPO/DIAN TRIYULI HANDOKO

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang penonton bayaran atau yang biasa disebut anak alay ternyata berasal dari berbagai macam latar belakang pekerjaan. Ada yang anak sekolahan, mahasiswa bahkan pekerja kantoran. Eni, seorang penonton bayaran dan extras (pemain figuran) adalah seorang mantan staff marketing di sebuah perusahaan entertainmen ternama di Jakarta.

    “Dulu tu aku marketing di kantor, di bidang entertainmen juga, ngurusin extras juga dan sempet ngeremehin, extras tu apaan sih, ternyata banyak yang menggantungkan hidupnya dari syuting,” kata perempuan berusia 27 tahun ini. Berawal dari coba-coba, akhirnya Eni merasa dirinya ‘kena batunya’ dan jatuh cinta dengan profesi penonton bayaran.

    Itulah fenomena anak alay zaman sekarang yang kebanyakan ada di ibu kota Jakarta. Mereka dibayar karena jasanya meramiakan setiap panggung musik atau acara televisi lainnya. entah sekedar melambaikan tangan atau pun duduk manis--pasang tampang senyum--sambil tepuk tangan mengikuti perintah sutradara lapangan.

    “Setelah di sini (jadi penonton bayaran) aku berpikir ternyata sombong juga ya dulu aku, nggak mau kenal dunia extras,” kata Eni. Sekarang Eni telah berdamai dengan dunia penonton bayaran, sejak dua tahun yang lalu. “Baru ngeh dan berpikir sekarang, dulu kemana aja ya nggak manfaatin kesempatan yang ada. Saat umur sekarang baru sadar enaknya kerja gini,” tambahnya.

    Sebenarnya Eni telah masuk ke dunia entertainmen sejak tahun 2008. Saat itu ia hanya sekali-kali mencoba menjadi extras di sinetron Cinta Fitri Season 4 dan 5. Sampai akhirnya ia merasa bosan dengan pekerjaan di kantor dan fokus menjadi penonton bayaran dengan konsekuensi dicap sebagai anak alay.

    Menurutnya, pekerjaannya yang sekarang ini, sesuai dengan minatnya. Lagipula, penghasilan yang didapat tidak jauh berbeda dengan pekerjaan kantoran. “Kerjanya enak dan emang jiwa gw banci kamera, terus kerjaan yang nggak ada beban ini doang,” katanya.

    Dalam sebulan Eni bisa mengumpulkan penghasilan hingga Rp 3 juta. Perharinya minimal Eni bisa meraup untung Rp 50.000, sudah dipotong uang makan dan juga transportasi.

    NANDA HADIYANTI

    Topik terhangat:
    Tarif Baru KRL | Kisruh Kartu Jakarta Sehat | PKS Membangkang | Ahmad Fathanah

    Berita terkait:
    Pramugari Sriwijaya Air Dipukul Pejabat Daerah
    Pramugari Sriwijaya Air Banjir Dukungan di Twitter
    Pemerintah Tegaskan Larangan Ponsel di Pesawat


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.