Marissa Anita Menunggu 35 Tahun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Marissa Anita berperan sebagai Padusi (kanan) dalam Pertunjukan

    Marissa Anita berperan sebagai Padusi (kanan) dalam Pertunjukan "Padusi" di Teater Jakarta, TIM, Jakarta (10/05). Kisah Padusi sebagai perempuan kota gelisah mencari akar budayanya sebagai keturunan orang Minang. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta -Pasangan yang sudah menikah biasanya ingin langsung memiliki momongan. Namun hal itu tidak berlaku bagi presenter teve kondang, Marissa Anita.

    "Aku memang belum mau punya anak dulu," katanya ketika dijumpai di daerah Kebon Jeruk, Jakarta, 1 Juni 2013 lalu.

    Marissa menikah lima tahun lalu dengan sineas Andrew Trigg dan kini berkarier sebagai jurnalis di stasiun televisi swasta. Alasannya tak mau punya anak dulu, rupanya simpel. Marissa takut kegiatannya yang padat saat ini membuatnya tak bisa menjadi ibu yang baik.

    Marissa mengaku belajar dari pengalaman teman-temannya yang tak punya banyak waktu untuk memantau perkembangan anaknya lantaran sibuk bekerja. Dia juga merasa sedih melihat teman-temannya lebih sering menitipkan anak ke orang tua.

    Perempuan kelahiran Surabaya, 29 Maret 1983, ini tak mau jadi ibu seperti itu. Menurut dia, menitipkan anak-anak, meskipun kepada neneknya, dapat membuat anak sedih. Selain itu, ia khawatir sang anak akan lebih merasa dekat dengan sang nenek ketimbang ibunya.

    “Anaknya bisa tanya, ‘Kenapa dulu gue dikasih ke nenek?’. Aku kebayang aja kalo digituin sama anakku, aku akan merasa sedih dan patah hati,” katanya.

    Meski saat ini ia belum siap memiliki momongan, lulusan Sastra Inggris Universitas Atma Jaya ini tetap memasang target akan hamil dan punya bayi.  “Paling lama umur 35 tahun aku mau sudah punya anak,” katanya. Itu pun, kata dia, paling banyak dua.

    MITRA TARIGAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.