Rencana Kirab Lentera di Surakarta Menuai Kritik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdi dalem Keraton Surakarta membawa lentera dalam ritual malem selikuran di Masjid Agung Surakarta (08/08). Ritual tersebut digelar tiap tahun untuk menyambut malam Lailatul Qadr. Tempo/AHMAD RAFIQ

    Abdi dalem Keraton Surakarta membawa lentera dalam ritual malem selikuran di Masjid Agung Surakarta (08/08). Ritual tersebut digelar tiap tahun untuk menyambut malam Lailatul Qadr. Tempo/AHMAD RAFIQ

    TEMPO.CO, Surakarta-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta bakal menggelar Kirab Lentera pada malam akhir pekan ini. Kirab Lentera dengan hiasan lampion itu merupakan bagian dari kegiatan Kampung Art Festival.

    Hanya saja, kegiatan untuk menghibur masyarakat di akhir pekan tersebut justru menuai kritik. "Selama ini kirab lampion identik dengan penyambutan malam 21 Ramadan," kata pemerhati sejarah dari Komunitas Solo Tempo Doeloe, Heri Priyatmoko, Jum'at 7 Juni 2013. 

    Menurutnya, Kirab Lentera dengan hiasan lampion merupakan acara adat Keraton Surakarta yang diselenggarakan sekali dalam setahun. Kegiatan itu digelar untuk menyambut malam Lailatul Qadar di malam 21 Ramadan.Kirab Lentera telah berlangsung rutin sejak zaman Paku Buwana X. "Sudah lebih dari seabad," katanya. Biasanya, kirab akan berjalan dari kompleks Keraton Kasunanan Surakarta menuju ke Taman Sriwedari.

    Tradisi yang disebut Malam Selikuran tersebut menggambarkan suasana saat Rasulullah menerima wahyu Lailatul Qadar. Pada saat itu, masyarakat Makkah menyambut kedatangan Rasul yang turun dari Jabal Nur dengan menyalakan lentera di sepanjang jalan. "Penyelenggaraan kirab lentera di luar acara tersebut justru akan melunturkan nilai serta sejarah," kata Heri. Kegiatan itu justru dinilai merusak memori kolektif masyarakat tentang kirab lentera. Sebab, kegiatan itu digelar di luar kebiasaan.

    Heri yakin bahwa dinas tersebut tidak memiliki kajian yang lengkap dalam merencanakan kegiatan itu. Mereka hanya meniru bentuk tanpa mempertimbangkan faktor lain. "Hanya sekadar menyalin dan menempel," kata Heri.

    Beberapa bulan sebelumnya, dinas tersebut juga sempat menuai kritik saat menggelar kirab wayang. Mereka meniru tradisi Bali dengan mengarak ogoh-ogoh berbentuk tokoh Punakawan. Padahal, di tempat asalnya, ogoh-ogoh merupakan perwujudan sifat buruk.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Periwisata Surakarta, Widdi Sri Hanto menolak anggapan bahwa mereka meniru tradisi Malam Selikuran. "Kami hanya terinspirasi," katanya. Kegiatan itu sengaja digelar untuk menarik wisatawan.

    Mereka akan mengarak 160 lentera dengan hiasan lampion. Peserta kirab merupakan para anggota Kelompok Sadar Wisata. Kegiatan tersebut menjadi bagian dalam Kampung Art Festival yang diselenggarakan di kawasan Benteng Vastenburg.

    AHMAD RAFIQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?