Kata Ananda Sukarlan Soal Belajar Piano di Eropa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pianis, Ananda Sukarlan saat ditemui di kantornya di Fatmawati, Jakarta Selatan, (29/8). TEMPO/Dwianto Wibowo

    Pianis, Ananda Sukarlan saat ditemui di kantornya di Fatmawati, Jakarta Selatan, (29/8). TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO.CO, Makasar -Satu pianis Indonesia yang sukses mendunia, bahkan masuk dalam buku The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century adalah Ananda Sukarlan. Dalam Seminar Musik yang Edukatif dan Imaginatif di Grazioso Music School, Ananda berbagi cerita soal pengalamannya selama belajar piano di Royal Conservatory, Den Haag, Belanda.

    "Saingan terberat di Eropa itu adalah pianis dari Cina," kata Ananda, Ahad, 12 Mei 2013. Di tahun ini, setidaknya ada 1,5 juta pianis Cina yang berminat masuk ke universitas di Eropa. Agar tidak menghabiskan jatah kursi pianis dari Eropa serta Amerika, pemain piano asal Asia pun dibatasi. "Mereka hanya mendapatkan kuota 60 persen saja, dan paling banyak yang ikut adalah siswa Cina."

    Siswa asal Negeri Gingseng, kata Ananda, begitu berbakat dalam musik klasik atau sastra. Ketika tampil, resital selama dua jam, mereka tidak pernah salah menekan tuts. Meski hanya satu not. "Sebab mereka belajar tidak cukup 24 jam sehari, tapi bisa 25 jam sehari," seloroh Ananda.

    Ananda pun memberikan satu contoh kasus. Dalam kelas piano, kata Ananda, ada waktu istirahat 1,5 jam yang diberikan ke tiap siswa. Namun hampir seluruh siswa asal Cina tidak mengambil jatah itu. Alih-alih rehat bersama teman dari negara lainnya, mereka memilih tetap berada di ruang musik dan berlatih. "Paling-paling hanya mengambil sandwich di kantin, lalu latihan lagi."

    Siswa Indonesia memang tidak seunggul murid asal Cina, dalam teknik berpiano. Namun Ananda memiliki cara jitu untuk mengalahkan mereka, termasuk pianis dari Eropa dan Amerika. Selain membawakan karya pianis ternama, seperti Bach atau Mozart, siswa Indonesia disarankan memainkan lagu tradisional juga. Seperti lagu Anging Mamiri, Ampar-ampar Pisang, Rasa Sayange, dan lainnya. "Dengan begitu, identitas sebagai siswa dari Indonesia keluar. Hingga menarik minat guru di Eropa."

    CORNILA DESYANA

    Berita Terpopuler:
    Menara Saidah Miring, Pemda Jakarta Ikut Salah

    Dikunjungi Komnas HAM, Warga Sebut Jokowi Bohong 

    Tindakan PKS Dinilai Kriminalisasi KPK

    Rumah Luthfi Hasan Ternyata Atas Nama Ahmad Zaky

    Fathanah dan Dewi Kirana 'The Queen of Pantura' 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.