Lawuh Boled, Film Fiksi Pendek Pelajar Terbaik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • lavenderbluemedia.com

    lavenderbluemedia.com

    TEMPO.CO , Purbalingga-Panen prestasi film-film produksi terbaru pelajar Purbalingga tahun ini, diawali dengan kejayaan film "Lawuh Boled" produksi Pedati Film SMK Negeri 1 Rembang Purbalingga. Film yang disutradarai Misyatun itu diganjar sebagai Film Fiksi Pendek Pelajar Terbaik di ajang Malang Film Festival (Mafifest) 2013.

    Penghargaan langsung diterima Misyatun yang berangkat dari Purbalingga bersama salah satu kru film dan guru pendamping pada malam penghargaan, Sabtu (6/4) di Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    "Senang, bangga, campur-aduk. Bisa membawa nama baik sekolah dengan berprestasi di bidang film," ucap Misyatun usai penganugerahan dengan harapan komunitas filmnya bisa menjadi ekskul sinematografi di sekolahnya, Minggu (7/4).

    Misyatun melanjutkan, tahun lalu, ia dan teman-temannya sempat memproduksi satu film fiksi pendek, namun belum berkesempatan meraih prestasi. "Semoga prestasi awal di Malang ini membuka kesempatan bagi sekolah untuk mengakui keberadaan komunitas film di sekolah kami," ujar siswi kelas XI ini.

    Film "Lawuh Boled" berkisah seorang perempuan desa bernama Sutimah yang buta huruf. Ia merasa disepelekan oleh tingkah-laku ketua RT yang memanfaatkan kebutahurufannya. Sutimah tidak berhasil membawa beras jatah Raskin dari balai desa karena kupon yang dibawanya tertukar dengan kupon lain yang sama-sama berinisial S. Sementara di rumah, anak perempuan Sutimah hanya sarapan ubi sebelum berangkat sekolah.

    Menurut salah satu dewan juri, Tomy Widiyatno Taslim, film berdurasi 9 menit ini berhasil menyampaikan kepekaan pembuatnya terhadap masalah kemiskinan/sosial dengan cara jenaka. "Keunggulan lain bahwa cerita cukup utuh, bahasa visual dan suara efektif dalam menguatkan penceritaan," ujar pegiat Festival Film Pelajar.

    Manager Program Cinema Lovers Community (CLC) Nanki Nirmanto mengatakan, kerja keras para pelajar Purbalingga saat produksi film itu ibarat mereka berada di musim tanam. "Di ajang festival-festival film itulah saatnya mereka memanen. Siapa yang serius dan baik saat produksi, hasil panennya pun akan baik," katanya.

    ARIS ANDRIANTO


    Topik Terhangat Tempo:

    Penguasa Demokrat
    || Agus Martowardojo || Serangan Penjara Sleman || Harta Djoko Susilo || Nasib Anas


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.