40 Karya Pelukis Autis Dipamerkan di Surabaya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengunjung melihat sejumlah lukisan karya penyandang autisme saat pameran karya seni Art for Autism di Atrium Grand City, Surabaya, Selasa (2/4). Pameran untuk memperingati Hari Autisme Sedunia  ini sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap penyandang autisme dan juga sebagai kampanye menolak diskriminasi terhadap penyandang autisme. TEMPO/Fully Syafi

    Seorang pengunjung melihat sejumlah lukisan karya penyandang autisme saat pameran karya seni Art for Autism di Atrium Grand City, Surabaya, Selasa (2/4). Pameran untuk memperingati Hari Autisme Sedunia ini sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap penyandang autisme dan juga sebagai kampanye menolak diskriminasi terhadap penyandang autisme. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Surabaya -Tak kurang 40 hasil karya para penyandang autis dipamerkan di Surabaya, Jawa Timur. Karya para penyandang autis dari Jawa Timur dan Jawa Barat berupa lukisan, gambar, kerajinan tangan, hingga kolase tersebut dipajang di atrium sebuah mal di kawasan Gubeng, Surabaya.

    Divisi Advokasi Yayasan Advokasi Sadar Autis (ASA) Surabaya, Vika Wisnu, mengatakan karya-karya penyandang autis tersebut sebagian besar berasal dari penyandang autis di Kota Surabaya. Sejumlah karya lainnya berasal dari Jember, Malang, Pasuruan, dan Bandung. "Pembuatnya adalah penyandang autis usia anak-anak hingga usia remaja," kata ibu dari seorang anak penyandang autis ini kepada Tempo, Selasa, 2 April 2013.

    Puluhan karya tersebut dipajang di sejumlah tripod disandingkan dengan lukisan-lukisan karya para pelukis yang bukan penyandang autis. Selama enam hari hingga 7 April 2013, karya-karya seni itu menghangatkan forum bertajuk “Art for Autism” tersebut.

    Dua lukisan yang dipamerkan antara lain karya penyandang autis Aska Aulia Naydarrahman dari Surabaya dan Aan Arda dari Bandung. Sebagian besar lukisan penyandang autis ini menggambarkan pemandangan alam seperti gunung, rumah, pohon, serta matahari. Ada pula gambar anak-anak. Arsiran-arsirannya terlihat tegas dengan dominasi warna yang mencolok. "Tekanan-tekanan tangan ketika menggambar cukup jelas terlihat pada lukisan mereka. Arsirannya terlihat bebas," ujar Ketua Panitia Art for Autism ini di sela acara pameran, Selasa siang ini.

    Menurut Vika, pameran ini bertujuan untuk membentuk lingkungan yang lebih ramah bagi penyandang autis. Ia berharap masyarakat tidak melihat penderita autis dari faktir kelemahan-kelemahannya saja. Namun lihat juga kelebihan-kelebihan yang mereka miliki.

    DAVID PRIYASIDHARTA

    Berita terpopuler lainnya:
    'Postingan Idjon Djanbi Tak Bisa Dipertanggungjawabkan'

    Misteri Selongsong Peluru di Cebongan

    Pati, Kota Seribu Paranormal

    Bambang Pamungkas Pensiun dari Timnas Indonesia


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.