Rizal Armada Samakan Politik dengan Infotainment

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rizal Armada. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Rizal Armada. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Vokalis band Armada, Rizal Disandi atau akrab disapa Rizal Armada mengatakan sudah malas mengikuti perkembangan berita politik akhir-akhir ini. "Sudah seperti saingan dengan infotainment, jadi malas mengikuti lagi," kata Rizal ditemui di Yogyakarta.

    Pelantun lagu 'Mau Di Bawa Ke mana' itu menuturkan, intrik-intrik yang terjadi di bidang politik menurutnya sudah tidak berisi lagi dan sangat mudah ditebak. "Kalau ada satu orang yang citranya lagi naik, nanti di sisi lain ada lawan yang muncul menyudutkan lalu teman-temannya membela. Gitu muter terus," kata pria 27 tahun itu.

    Dia pun berpandangan, sebenarnya dunia politik dengan infotainment seperti sahabat bahkan saudara. "Berkaitan erat, jadi seperti hiburan," kata dia. Meski merasa malas mengikuti berita politik, pria yang sudah memiliki empat album dengan kelompoknya itu mengatakan masih mengikuti perkembangan berita politik dibanding berita infotainment.

    Seperti heboh wacana gantung Anas di Monas yang mencuat saat Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam proyek Wisma Atlet Hambalang Februari 2013 lalu.

    Tak hanya itu, ia pun lumayan rajin mengikuti perkembangan berita seputar Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. "Saya nggak ngefans yang sebegitunya, tapi mengikuti beritanya (Jokowi)," kata dia. 

    Misalnya dengan wacana Jokowi sebagai Capres 2014 karena elektabilitasnya yang tinggi berdasar survei sejumlah lembaga. Rizal mengaku tak setuju jika Jokowi langsung maju capres. "Bukannya tak layak, Jokowi layak saja. Tapi itu terlalu cepat kalau dari gubernur langsung presiden, apalagi kalau harus ninggalin tugas gubernur yang baru berapa tahun," kata dia.

    Pelantun lagu 'Buka Hatimu' itu menilai, Jokowi Ahok sebenarnya tipe ideal pemimpin yang diidamkannya. "Seperti dulu SBY-JK, saling melengkapi, tidak saling mengekor, punya independensi dan karakter masing-masing," kata dia.

    Jika sebagai presiden, sosok Jokowi dianggapnya sebagai tokoh dengan karakter yang bakal 'ngemong'. Sednagkan Ahok sebagai karakter yang taktis dan penuh perhitungan. "Rasanya kalau nanti ada calon presiden dan calon wakil presiden yang punya karakter, ya Jokowi-Ahok," kata Rizal.

    PRIBADI WICAKSONO

    Berita terpopuler lainnya:
    Mengapa Ibas Laporkan Yulianis ke Polisi 
    Enam Pernyataan Soal Ibas dan Yulianis

    Ibas Siap Diperiksa, Ini Jawaban KPK

    Daftar Pasal Kontroversial di Rancangan KUHP 

    SBY Bercerita Kantornya Tak Mewah


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.