Sayembara Musik Paus Di Festival Java Jazz 2014

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor Paus Sei berhasil difoto oleh Danny Kerr di Skotlandia. Foto: BBC

    Seekor Paus Sei berhasil difoto oleh Danny Kerr di Skotlandia. Foto: BBC

    TEMPO.CO, Jakarta - Paus menjadi simbol lingkungan hidup di laut, kini mulai tercemar oleh ulah manusia. Para penggiat sosial dan lingkungan dari Jepang, ingin menyelamatkan populasi Paus dengan membuat kampanye Ecoparty dalam sayembara musik, bekerjasama dengan festival Java Jazz. Realisasinya tahun 2014.

    Delegasi asal Jepang, Ito Akinori dan Uwai Masanori sebagai direktur Ecoparty datang ke festival Java Jazz, pada 1 – 3 Maret lalu di JIExpo, Kemayoran untuk memberi sosialisasi pada kegiatan yang memberi penghiburan bagi binatang mamalia, bukan tergolong jenis ikan ini.

    Sosialisasi ini memberitahukan adanya sayembara bisa diikuti kalangan profesional maupun amatir yang ingin menyumbangkan musiknya untuk dinikmati paus. “Realisasinya baru tahun depan, pada perhelatan Java Jazz Festival 2014, “ kata Uwai pada perhelatan festival Java Jazz, hari pertama, 1 Maret 2013.

    Mereka akan melakukan siaran percobaan, sehingga paus akan mendengarkan musik yang dimainkan oleh para musisi yang beraksi di Java Jazz melalui streaming live di internet."Kami akan membuat siaran langsung antara Jepang dan Jakarta. Menampilkan suasana di bawah laut melalui monitor besar," kata Uwai.

    Secara teknis nantinya akan menempatkan dan membenamkan speaker-speaker khusus ke dalam laut, lalu  menyiarkan lagu-lagu masuk sayembara. Lagu lagu ini diharapkan menjadi media interaksi paus yang akan disiarkan secara langsung di festival Java Jazz  tahun depan.

    Tim Ecoparty akan berlayar ke daerah tempat peristirahatan paus di daerah Ogasawara, Jepang. Di tempat ini paus datang pada musim dingin setiap tahun, untuk melakukan  reproduksi dan mengasuh anak.

    Melalui gerakan School Oil Field Caravan, mereka membuat gerakan mengumpulkan minyak plastik yang berasal dari hasil daur ulang sampah plastik dari rumah-rumah, untuk digunakan sebagai bahan bakar kapal laut.

    "Khususnya adalah sampah plastik. Karena plastik dimakan ikan kecil, lalu ikan yang lebih besar menyantap ikan kecil dan ikan itu akan dimakan manusia. Dapat membahayakan metabolisme tubuh," kata Uwai.

    Ecoparty berdiri pada 2003 di Taman Kanak-Kanak Shin-Matsudo, di Chiba Prefecture, Jepang. Ini adalah kegiatan bertujuan memberi interaksi antar masyarakat dan kalangan pendidikan mengenal lingkungan.

    Sejak 2006, mereka telah mengembangkan jaringan aktivitasnya ke Nepal, dimana setiap tahun mengunjungi sekolah-sekolah bersama para pendidik untuk melakukan pertukaran budaya yang berkaitan dengan alam, makanan dan lain sebagainya.

    EVIETA FADJAR


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.