Mien Uno Diingatkan Membayar Kain

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mien Uno. DOK/TEMPO/Panca Syurkani

    Mien Uno. DOK/TEMPO/Panca Syurkani

    TEMPO.CO, Jakarta - Meninggalnya perancang senior Ramli, 58 tahun pada Rabu, 23 Januari 2013, pukul 06.50 tadi pagi meninggalkan kesedihan mendalam di hati Mien Uno. Wanita kelahiran Indramayu, 23 Mei 1941 ini merupakan sahabat dekat dan sebagai soulmate Ramli.

    Sejak Ramli menderita kanker kanker usus stadium IV dan menjalani kemoterapi terus menerus, Mien merupakan orang yang paling dekat dan sering wira-wiri untuk mengantar sahabatnya check in.

    Ditemui di rumah duka di Jalan Semarang, Menteng, Jakarta Pusat Rabu siang, pakar etika ini sebentar-sebentar menangis menuturkan kisah kedekatannya dengan almarhum. “Mas Ramli itu soulmate saya. Tiga tahu berjuang melawan kanker saya sering dipercaya untuk mengatarnya check kesehatan rutin dan kemoterapi,” kata wanita yang rambutnya sering di gelung ini dengan nada terisak.

    Hari itu Mien yang mengenakan gamis panjang warna putih tampak sibuk dan mewakili sebagai kerabat keluarga Ramli. Mien menceritakan dua minggu sebelum Ramli dibawa ke Rumah Sakit Gading Pluit, pada hari Kamis pagi dia menemani sahabatnya untuk check rutin ke rumah sakit. Mien menuturkan, ketika itu Subuh dia diingatkan untuk mengantar Ramli ke Rumah Sakit Bunda di Menteng sebelum menjalani kemoterapi.

    “Hari itu, Mas Ramli banyak senyum dan manja sekali. Sesampai di rumah sakit Bunda ternyata darah Mas Ramli tinggi, dan ada instruksi dari dokternya harus dibawa ke RS Gading. Saya heran, sebab diperjalanan kondisnya bagus tidak menyangka cepat sekali kondisinya memburuk dan disarankan dokternya Mas Ramli harus dirawat ke Gading Pluit.”

    Selama dua minggu dirawat di Gading Pluit, Mien termasuk orang yang rajin menjenguk Ramli. Bahkan pada sebuah kesempatan Mien diingatkan Ramli, “Mbak Mien jangan lupa ya bayar kain yang Mbak Mien ambil akhir tahun lalu diserahkan ke anak-anak (pegawai butik Ramli),” kata Mien menirukan amanat Ramli. Merasa diingatkan demikian, dia segera memenuhi amanat tersebut. Hingga pada kesempatan menjenguk berikut, Mie menceritakan sudah melaksanakan amanat tersebut. “Mas Ramli senang dan tersenyum terus. Dia sempat ngomong ke saya bukan apa-apa Mbak, saya pingin semua kelar dan beres,” ujarnya kembali menangis.

    Ketika percakapan tersebut Mien mengakui sempat merinding seolah sebuah firasat. Tetapi dia mencoba mencairkan suasana sambil bilang, “Mas Ramli kalau kasih baju atau bahan ke aku harganya mahal selangit ampe Rp 20jutaan. Eh, sambil senyum Mas Ramli bilang ke saya, ya enggak apa-apa kan Mbak Mien orang mampu duitnya juga ada, saya akan memberikan harga khusus buat orang-orang yang tidak mampu,” bisiknya menirukan percakapan saat itu.

    Pemilik sekolah kepribadian ini mengaku terpukul dan kehilangan sahabat terbaik. Selama Ramli menderita kanker, Mien selalu menampung semua semangat dan keinginan Ramli untuk terus berkarya termasuk menulis buku 35, 36 dan terakhir buku Legacy of Ramli, 37 Tahun Berkarya untuk Indonesia. Pada acara show dan peluncuran buku Legacy of Ramli, 37 Tahun Berkarya untuk Indonesia pada November lalu, Mien ikut tampil sebagai model. Bahkan ketika acara jumpa pers, dia setia menemani Ramli yang sesekali tampak kesakitan.

    Seperti saat pemberian bunga seusai peragaan, Ramli yang nekat ngedeprok atau duduk di lantai meraih bunga dari para tamu, Mien tampak khawatir dan beberapa kali memegang lembut bahu sahabatnya. “Ramli tipe orang yang fight. Dalam sakit pun terlihat gagah, tidak mau berkursi roda. Saat itu, Ramli tetap bersemangat memberikan selendang sambil memantaskan ke orang yang diberi selendang,” ucapnya sedih.

    HADRIANI P


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?