Wayang Orang Sriwedari Solo Masih Diminati  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang seniman berlakon sebagai Petruk dan Gareng dalam pertunjukan kesenian wayang orang yang berjudul Jayabaya Mukswa di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Surakarta (31/3). TEMPO/ Nita Dian

    Dua orang seniman berlakon sebagai Petruk dan Gareng dalam pertunjukan kesenian wayang orang yang berjudul Jayabaya Mukswa di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Surakarta (31/3). TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, Surakarta - Surakarta boleh berbangga diri. Wayang Orang Sriwedari dalam setahun ditonton oleh 28 ribu orang. Dalam sebulan rata-rata ada 2.000 penonton, dengan kapasitas sebanyak 400 kursi di tiap pertunjukan.

    “Kalau ada yang bilang Wayang Orang Sriwedari tidak laku atau tidak ditonton, salah besar. Paling sedikit penontonnya 70 orang di tiap pertunjukan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Widdi Srihanto, Rabu, 9 Desember 2013. Dia mengatakan Wayang Orang Sriwedari yang sudah berusia 102 tahun memiliki sekitar 100 cerita. Dia menjamin cerita yang ditampilkan berbeda setiap harinya.

    Selain masyarakat sekitar Solo seperti dari Wonogiri dan Sukoharjo, ada penonton dari Jawa Timur seperti Trenggalek. Biasanya mereka datang berombongan dengan menyewa bus.

    Harga tiket masuk sangat murah, hanya Rp 3.000 per orang. Pertunjukan dimulai pukul 20.00 dengan lama pertunjukan 1,5 jam. Sepanjang 2012, dia mengatakan Wayang Orang Sriwedari sanggup menyetor pendapatan asli daerah sebesar Rp 82 juta.

    Dia menantang biro wisata untuk membuat paket wisata yang memasukkan agenda menonton pertunjukan wayang orang. “Hari dan jamnya sudah pasti. Tidak ada hari libur,” katanya. Kepastian jadwal pertunjukan akan memudahkan biro wisata menjual paket wisata.

    Wakil Ketua Asosiasi Biro Wisata di Surakarta, Daryono, mengakui Wayang Orang Sriwedari punya potensi untuk dijual ke wisatawan. Apalagi selama ini pelaku wisata membutuhkan atraksi wisata yang sudah berjalan rutin. “Dan kami punya wayang orang,” ujarnya.

    Menurutnya, pertunjukan wayang orang di Surakarta hampir mirip dengan kesenian serupa di negara lain, misalnya di Cina. Hanya saja di Negeri Tirai Bambu dikemas lebih menarik dan didukung kecanggihan teknologi, seperti di pencahayaan dan suara.

    Karenanya dia meminta adanya pembenahan di pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Misalnya menampilkan cerita garapan, bukan yang pakem. “Kalau yang pakem, bisa berjam-jam. Wisatawan bisa bosan,” katanya.

    Selain itu, Sriwedari juga menyediakan sinopsis dalam berbagai bahasa untuk mengakomodasi wisatawan asing. Selama ini dia sudah mulai menjual wayang orang ke wisatawan, meskipun baru sebatas pilihan wisata.

    Widdi menyatakan masih banyak kekurangan Wayang Orang Sriwedari. Dia berjanji akan membenahi tata suara, akustik gedung, menyediakan kursi dengan yang lebih nyaman, dan memasang pendingin udara.

    UKKY PRIMARTANTYO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.