Penggemar Bikin Weezer Mau Manggung di Jakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Weezer. nme.com

    Weezer. nme.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Band asal Amerika Serikat, Weezer, memilih Indonesia sebagai satu-satunya negara di Asia yang disambangi dalam rangkaian turnya tahun 2013. Lantas, apa alasan dari para personelnya: Rivers Cuomo, Brian Bell, Scott Shriner, dan Patrick Wilson?

    Menurut Brian Bell, sang pemain gitar, Jakarta adalah salah satu basis penggemar Weezer yang cukup fanatik. Ia mengaku banyak menerima surat dari penggemarnya di Jakarta. "Banyak sekali surat datang dari Jakarta. Awalnya saya bingung Jakarta itu di mana. Apakah orang Jakarta segila ini?" katanya dalam jumpa pers di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin malam, 7 Januari 2013.

    Itu sebabnya, saat empat promotor: Asia Live, Marygops Studios, BlackRock Entertainment, dan StarD Protainment; menawarkan Weezer konser di Indonesia bulan Maret 2012 lalu, Brian dkk langsung mengiyakan. "Jadi kami senang sekali bisa hadir di sini," katanya.

    Hal senada juga diungkapkan Peter Harjani dari Marygops Studios. Pihaknya mengaku tak menemui kesulitan saat bernegosiasi dengan manajemen Weezer. "Dalam proses pelaksanaan deal, kami dikasih kemudahan. Alhamdulillah prosesnya cepat dan smooth," katanya.

    Band beraliran rock alternatif ini dijadwalkan bakal naik panggung di Lapangan D Senayan, Jakarta, Selasa malam, 8 Januari 2013. Diperkirakan mereka akan membawakan 20 lagu.

    Promotor mengklaim sudah mengantongi angka penjualan tiket sebanyak 8.000 penonton. Jumlah ini hampir mencapai target, yakni 10 ribu lembar. Bagi calon penonton yang belum memiliki karcis masuk, bisa langsung membelinya di lokasi konser pada hari pertunjukan malam ini. Seusai beraksi di Jakarta, Brian dkk akan melanjutkan turnya ke Australia dan Amerika Serikat.

    YAZIR FAROUK


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.