Harmoni Gerak Penari Eko Supriyanto di Candi Sukuh  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penari asal Solo, Eko Supriyanto menyuguhkan karyanya berjudul Sensing di acara Srawung Seni Candi di kaki gunung Lawu, Karanganyar, (31/12) untuk menyambut perayaan pergantian malam tahun baru. Tempo/AHMAD RAFIQ

    Penari asal Solo, Eko Supriyanto menyuguhkan karyanya berjudul Sensing di acara Srawung Seni Candi di kaki gunung Lawu, Karanganyar, (31/12) untuk menyambut perayaan pergantian malam tahun baru. Tempo/AHMAD RAFIQ

    TEMPO.CO, Karanganyar - Dalam Srawung Seni Candi 2012, Candi Sukuh tidak sekadar menjadi panggung dan penghias latar untuk pementasan seni pertunjukan. Tumpukan batu tua itu menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering.

    Bahkan, bagi penari sekelas Eko Supriyanto, inspirasi itu bagaikan ditebar sebagai sebuah energi. Dalam kegiatan tersebut, dia mencoba mengharmonisasi gerak tubuh dengan candi serta lingkungan alam di sekitarnya. Dia memberikan judul Sensing untuk pertunjukannya tersebut, yang berlangsung Senin malam, 31 Desember 2012.

    Penari yang memegang gelar Master of Fine Arts (MFA) dari UNCLA California itu memilih altar di depan candi sebagai tempat pementasan. Dengan bertelanjang dada, Eko mengeksploitasi tubuhnya dengan gerakan halus dan pelan.

    Dalam pementasan berdurasi 20 menit tersebut, sesekali, Eko menyentuhkan tangannya ke relief yang ada di dekatnya. Di tengah pertunjukan, dia membungkus tubuhnya dengan mantel warna abu-abu, nyaris sewarna dengan bebatuan candi.

    Mantel tak berkancing itu terlihat mekar saat Eko menggerakkan tubuhnya memutar. Tubuhnya seperti bersayap. Gerakannya mengingatkan pada relief burung Garudeya atau yang juga disebut Garuda, yang terdapat pada relief candi tersebut.

    Menjelang akhir pertunjukan, pengasuh padepokan Lemah Putih, Suprapto Suryodarmo, yang berpakaian hitam-hitam, masuk untuk berkolaborasi bersama. Mereka saling bersinergi sambil membawa imajinasinya masing-masing. Pertunjukan itu menjadi sebuah duet dua maestro tari yang berbeda generasi tersebut.

    Eko menyebutkan, pertunjukan yang dibawakannya bukanlah hasil karya sebuah koreografi. "Pertunjukan ini sudah tidak memerlukan lagi unsur teknis sebuah tarian," katanya. Dia memilih untuk meletakkan sensor di tiap tubuhnya untuk merasakan inspirasi gerak yang muncul dari situs peninggalan abad XV tersebut.

    Dia menyatakan, masuknya Suprapto dalam pertunjukannya tidak direncanakan sebelumnya. Kehadiran seniman gerak tersebut diresponsnya sebagai salah satu bagian dari lingkungan di sekitar Candi Sukuh. Gerakan tubuhnya langsung bersinergi dengan gerak tubuh penggagas kegiatan Srawung Seni Candi tersebut.

    Penari yang pernah terlibat dalam pementasan Madonna Drowned World Tour pada 2001 ini sebenarnya sudah pernah mengikuti Srawung Seni Candi di tempat yang sama, sembilan tahun lalu. Saat itu, dia membawa enam penari pelalui penggarapan sebuah karya koreografi. "Namun justru tenggelam oleh energi candi," katanya.

    Suprapto Suryodarmo mengatakan bahwa penampilannya bersama Eko Supriyanto bukan sekadar kolaborasi gerak. Menurut dia, mereka mencoba bersama untuk meraih energi inspiratif dari Candi Sukuh. "Candi Sukuh memang menyimpan banyak misteri yang bisa menjadi inspirasi," katanya.

    Selain Eko Supriyanto, sejumlah seniman dari dalam dan luar negeri ikut tampil dalam Srawung Seni Candi itu. Kegiatan itu rutin digelar setiap pergantian tahun, pada 31 Desember hingga 1 Januari. Saat ini, Srawung Seni Candi sudah sembilan kali diselenggarakan.

    AHMAD RAFIQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.