Miss Universe 2012 Pernah Ditentang Keluarga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Olivia Culpo. REUTERS/Valerie Macon/Miss Universe Organization L.P/Handout

    Olivia Culpo. REUTERS/Valerie Macon/Miss Universe Organization L.P/Handout

    TEMPO.CO, Jakarta -- Keinginan Olivia Culpo, Miss Universe 2012, untuk mengikuti ajang kecantikan tak selalu mulus. Ia sempat mendapatkan kritikan dari keluarga dan teman-temannya.

    Menurut kedua orang tuanya, Susan dan Peter Culpo, kontes kecantikan hanya akan membuang waktu sang anak saja. Bahkan, mereka berpikir kecil kemungkinan bagi anak ketiga dari lima bersaudara itu untuk menang di kontes kecantikan. "Tapi lambat laun, keluarga memberi dukungan ke Olivia Culpo," tulis Go Local Prov, Rabu, 19 Desember 2012.

    Langkah Olivia Culpo ke ajang kencantikan pun awalnya tidak mendapatkan persetujuan teman-temannya. Mereka memandang miring kontes kecantikan, seperti Miss Universe. Karena tidak ada kesepahaman, Olivia Culpo memutuskan menjauh dari teman sepermainannya. "Ia mencoba fokus terhadap keinginannya untuk ikut kontes kecatikan."

    Kebanyakan kontestan sudah mengikuti pelbagai macam kontes bakat. Namun, tidak begitu dengan Olivia Culpo. Perempuan 20 tahun yang mahir bermain cello ini hanya bersaing di satu perlombaan saja: kontes kecantikan.

    Olivia Culpo menyabet mahkota Miss Universe pada Rabu, 19 Desember 2012. Kemenangan Olivia Culpo itu membuat Amerika bisa kembali menang setelah 15 tahun selalu kalah. Pada 1997, Amerika pernah menyabet mahkota Miss Universe. Kala itu yang menjadi kandidat adalah Brook Lee, Miss Amerika asal Hawaii.

    Sebelum ikut di ajang kecantikan dunia, Olivia Culpo merupakan Miss USA asal Rhode Island. "Olivia Culpo adalah Miss USA kedelapan yang menjadi Miss Universe, mengalahkan 88 kontestan," tulis situs berita VOXXI. Lihat foto-foto Miss Universe 2012.

    PELBAGAI SUMBER | CORNILA DESYANA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.